Davos Bergetar oleh Pidato Prabowo Bertemakan Prabowonomics
Davos Bergetar oleh Pidato Prabowo Bertemakan Prabowonomics
Duduk yang rapi, siapkan Koptagul, pisang goreng juga boleh. Sebab, ini pidato presiden saya, presiden ente, presiden kita, Prabowo. Kali ini tak kaleng-kaleng ia pidato di WEF Davos Swiss. Simak narasinya dengam saksama, jangan nyengir ya.
Davos, Swiss, biasanya cuma dikenal oleh tiga hal, dingin kejam, cokelat mahal, dan orang-orang super kaya yang bicara soal masa depan dunia. Tapi World Economic Forum 2026 berubah nada ketika Presiden Prabowo Subianto naik podium. Salju masih turun, suhu masih minus, tapi ruangan mendadak hangat oleh retorika.
Setelan gelap. Dasi merah menyala. Aura jenderal senior yang sudah kenyang lapangan, kini naik kelas jadi orator global. Di hadapannya duduk sekitar 3.000 pemimpin dunia dari 130 negara, seperti presiden, perdana menteri, CEO raksasa, akademisi kelas dunia. Mereka diam. Bukan karena hormat saja, tapi karena Prabowo datang bukan membawa angka, melainkan narasi besar.
Ia melempar istilah yang langsung menggema, greedonomics. Kapitalisme rakus, ekonomi tanpa nurani, sistem yang menuhankan laba dan meminggirkan manusia. Lawannya? Prabowonomics. Ekonomi beretika, berkeadilan, pro-rakyat. Kalimatnya sederhana, tapi efeknya seperti lemparan batu ke kolam elit global. Tepuk tangan pun meledak. Bahkan ada CEO global yang mengangguk pelan, antara setuju atau sekadar menjaga citra di kamera.
Lalu Prabowo mulai membuka isi tas kebijakan Indonesia. Pertama, Program Makan Bergizi Gratis untuk anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Pesannya jelas, revolusi tidak dimulai dari pidato, tapi dari perut yang kenyang. Negara hadir bukan lewat jargon, tapi lewat nasi, lauk, dan gizi.
Kedua, Sekolah Rakyat untuk daerah tertinggal. Karena masa depan bangsa tidak mungkin lahir dari ruang kelas reyot dan kapur patah. Pendidikan, katanya, bukan privilese kota besar.
Ketiga, Danantara, dana abadi nasional. Bentuknya belum sepenuhnya kelihatan, payung hukumnya masih disiapkan, tapi namanya sudah dipamerkan ke dunia. Di Davos, nama yang gagah kadang sudah cukup untuk memancing minat.
Belum puas, Prabowo menggeber isu lingkungan. Ia mengumumkan pencabutan izin 28 perusahaan yang merusak lingkungan. Angka disebut. Dunia mencatat. Aktivis hijau bertepuk tangan. Investor mendadak menimbang ulang kalkulator. Sebuah sinyal bahwa Indonesia ingin tampil bukan hanya ramah modal, tapi juga ramah hutan, meski publik di rumah masih bertanya, seberapa konsisten langkah ini di lapangan.
Agenda Prabowo di Davos tidak berhenti di podium. Ia menyambangi Paviliun Indonesia, bertemu investor Norwegia, bicara energi dan keberlanjutan. Ia juga hadir dalam Dewan Perdamaian Gaza, membawa isu kemanusiaan ke forum ekonomi. Jenderal yang dulu identik dengan militer, kini bermain di panggung diplomasi global. Bahkan sebelum Davos, ia sempat ke London, bertemu Raja Charles III dan Perdana Menteri Inggris. Diplomasi model lompat jauh, istana, konflik dunia, lalu salju Swiss.
Namun, seperti semua kisah besar, realitas selalu mengintip dari balik tirai. Program makan gratis masih tahap uji coba. Danantara masih menunggu kepastian hukum. Hilirisasi industri masih tersandung infrastruktur, listrik, dan izin tambang yang ribetnya seperti benang kusut.
Tapi Davos bukan tempat audit. Davos adalah panggung. Di panggung itu, Prabowo tampil sebagai dirigen. Ia memainkan simfoni harapan, nada tinggi janji, nada rendah realita, semua dibungkus percaya diri.
Apakah Indonesia sudah menjadi industrial powerhouse? Belum. Tapi setelah pidato itu, Indonesia sah naik kelas sebagai rhetorical powerhouse. Negeri yang mampu membuat dunia percaya, makan siang gratis bisa jadi strategi pembangunan, dan etika bisa dipaketkan sebagai visi ekonomi.
Maka jika hidup terasa datar, ingatlah ini, di tengah salju Davos, seorang jenderal tua berdiri, bicara lantang, dan dunia mendengarkan. Selamat datang di era Prabowonomics, tempat mimpi besar, kata-kata besar, dan anggaran yang masih dicari bertemu dalam satu panggung global.
Foto Ai hanya ilustrasi
Source: Akun FB Rosadi Jamani