RENUNGKANLAH! BIARKAN NURANI ANDA BERBICARA DAN MENCERNA, JANGAN DULU MENCELA!

Dalam kerangka orang yang menolak keberadaan Tuhan dan konsisten dengan materialisme, tidak ada larangan objektif untuk membunuh ibu kandung sendiri. Bukan karena pelakunya kejam, tetapi karena dalam kerangka itu manusia hanyalah kumpulan atom, kesadaran hanyalah reaksi kimia, dan tindakan membunuh hanyalah perubahan konfigurasi materi. Atom tidak mengenal nilai, dan reaksi kimia tidak pernah salah atau benar. Jika realitas berhenti di sana, maka di antara pelaku dan korban tidak ada makna yang inheren... hanya proses fisik.
Namun manusia tidak pernah hidup di level itu. Kata “ibu” tidak pernah dipahami hanya sebagai objek biologis. Secara biologi, ibu memang sekadar betina manusia yang melahirkan. Tetapi dalam pengalaman manusia, ibu adalah makna: pengorbanan, kasih, kewajiban, dan ikatan moral yang terasa mengikat bahkan ketika tidak diawasi siapa pun. Makna ini tidak bisa diturunkan dari atom, tidak muncul dari hukum fisika, dan tidak dapat direduksi menjadi reaksi kimia semata. Di titik ini muncul masalah serius, manusia hidup dari makna yang tidak bisa dijelaskan oleh materi.

Jika ditelusuri lebih dalam, alam memang menunjukkan jenjang keteraturan. Dalam fisika, ketidakteraturan tanpa pola disebut entropi. Dalam kimia, reaksi mulai membentuk keteraturan. Dalam biologi, keteraturan itu menjelma menjadi bentuk kehidupan. Pada tingkat kesadaran sosial dan spiritual, bentuk itu melahirkan makna. Ini bukan sekadar chaos acak, melainkan transisi bertingkat: dari kekacauan menuju pola, dari pola menuju bentuk, dari bentuk menuju makna.

Makna sendiri hanya muncul melalui perbedaan. Kaya tidak bermakna tanpa miskin. Bahagia tidak bermakna tanpa kesedihan. Baik tidak bermakna tanpa buruk. Tinggi pendek, hitam putih, semuanya hidup dari kontras. Semakin datar realitas, semakin hilang makna. Benda mati tampak tenang bukan karena sempurna, tetapi karena tidak memiliki cerita. Kehidupan justru gaduh karena ia sarat makna.

Di sinilah pertanyaan kuncinya muncul, dari mana makna itu berasal? Jika realitas pada dasarnya hanyalah materi buta yang tunduk pada hukum fisika, maka makna, nilai, dan kewajiban moral seharusnya tidak pernah ada. Namun faktanya, manusia tidak bisa hidup tanpa menganggap makna itu nyata. Kita marah pada ketidakadilan bukan karena reaksi kimia terganggu, tetapi karena merasa ada nilai yang dilanggar. Reaksi ini terlalu dalam untuk disebut ilusi belaka.

Karena itu hidup penuh luka, kehilangan, dan konflik... bukan karena hidup sia-sia, melainkan karena hidup sedang bermakna. Yang berada di jalan kebaikan bersyukur, yang berada di jalan kesedihan bersabar. Keduanya bertindak seolah-olah hidup ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari narasi yang lebih besar.

Jika manusia bisa diadakan dari ketiadaan absolut, maka dibangkitkan kembali dari kematian bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal. Yang tidak konsisten justru pandangan bahwa penciptaan dari nol mungkin, tetapi kelanjutan eksistensi mustahil. Logika yang sama yang menerima asal-usul keberadaan seharusnya membuka kemungkinan tujuan dan pertanggungjawaban.

Maka kesimpulannya bukan sekadar teologis, tetapi logis... tanpa Pencipta, nilai hanyalah kesepakatan, makna hanyalah ilusi, dan moral hanyalah preferensi. Namun manusia hidup seolah nilai itu objektif, makna itu nyata, dan moral itu mengikat. Fakta bahwa makna objektif dialami, dituntut, dan dipertahankan menunjukkan bahwa realitas tidak berhenti pada materi. Makna menuntut sumber, nilai menuntut dasar, dan keteraturan menuntut pengarah. Itulah inferensi paling rasional menuju keberadaan Tuhan.

Sumber: fb Bisa Paham

Popular posts from this blog

Daftar Nama Obat Untuk Penyakit Hewan Ternak Dan Dosis Pemakaiannya

Perbedaan Antara Umur Dewasa Kelamin dan Dewasa Tubuh Ternak, Umur Berapa Siap Dikawinkan?

JEMBATAN KELEDAI