Survey BPS, Untungnya Apa Buat Saya?

Untungnya Apa Buat Saya?

Kalian mungkin udah nonton videonya, tiga petugas BPS kelabakan menghadapi pertanyaan warga. "Untungnya apa buat saya?" Anggap saja ini jeda iklan sebelum kita garap lagi MBG. Oh iya Belanda menang 5-1 lawan Swedia. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Indonesia memang negeri yang tidak pernah kehabisan bahan baku komedi. Kalau negara lain punya serial Netflix, kita punya kehidupan sehari-hari. Gratis. Full episode. Kadang lebih menegangkan dari film thriller Korea, lebih absurd dari kartun Jepang, dan lebih sulit dipahami dari isi kepala mantan.

Kali ini panggungnya sederhana. Sebuah rumah warga. Pemeran utamanya tiga petugas Sensus Ekonomi dari BPS. Lengkap dengan rompi hitam, topi, id card, surat tugas resmi, dan wajah yang mungkin sudah dibekali doa sebelum turun ke lapangan.

Mereka datang baik-baik.

Tok... tok... tok...

Pintu dibuka.

"Selamat siang, Pak. Kami dari BPS."

Dipersilakan masuk.

Satu petugas masuk ke ruang tamu. Dua lainnya siaga di luar seperti pasukan cadangan yang belum tahu, sebentar lagi mereka akan memasuki medan tempur psikologis tingkat dewa.

Awalnya semua normal. Petugas memperkenalkan diri. Menjelaskan tujuan kedatangan. Menjelaskan apa itu Sensus Ekonomi. Menjelaskan manfaat data. Menjelaskan pentingnya partisipasi masyarakat.

Lengkap. Rapi. Sistematis. Sesuai SOP.

Tapi kemudian muncul satu pertanyaan yang mungkin membuat para filsuf Yunani bangkit dari kubur untuk ikut berpikir.

"Untungnya buat saya apa?"

Petugas sedikit terdiam. Mungkin dalam benaknya langsung muncul ribuan file PDF pelatihan sensus. Mungkin ia mencoba mengingat halaman ke-73 modul pembekalan. Mungkin ia berharap ada tombol bantuan seperti di game online.

Namun pertanyaan itu harus dijawab. Maka dijelaskanlah lagi. Data penting untuk pembangunan. Data penting untuk kebijakan. Data penting untuk ekonomi nasional. Data penting untuk masa depan.

Sang bapak mengangguk. Lalu bertanya lagi.

"Ya saya tahu. Tapi untungnya buat saya apa?"

Di titik ini, suasana mulai berubah. Ini bukan lagi wawancara sensus. Ini sudah menjadi sidang disertasi. Petugas menjelaskan lagi. Lebih detail, panjang, ilmiah, lebih sabar. Tetapi pertanyaan itu kembali datang.

Seperti bos terakhir dalam permainan yang darahnya tidak berkurang meski sudah dihajar berkali-kali.

"Untungnya buat saya apa?"

Dua petugas yang di luar ikut menjelaskan sambil berdiri di depan pintu. Ini sudah seperti film Avengers. Tiga orang melawan satu pertanyaan.

Mereka menjelaskan bergantian. Tentang data, kebijakan, pembangunan, manfaat jangka panjang, ekonomi, negara, masa depan. Tentang segala sesuatu yang bisa dijelaskan manusia modern.

Tetapi bapak itu tampaknya memiliki jurus pamungkas. Setelah semua penjelasan selesai, ia kembali mengeluarkan mantra sakti.

"Untungnya buat saya apa?"

Saya membayangkan di saat itu server kesabaran para petugas mulai panas. Kipas pendingin mental berputar pada kecepatan maksimum. RAM emosi sudah hampir penuh. CPU logika mulai mengeluarkan asap.

Namun mereka tetap profesional. Tetap menjelaskan. Tetap sopan. Tetap tersenyum.

Padahal kalau itu saya, mungkin sejak pertanyaan ketujuh sudah berubah menjadi patung garam. Yang menarik, pertanyaan si bapak sebenarnya mewakili zaman sekarang.

Segala sesuatu harus menghasilkan keuntungan langsung.

Tanam pohon hari ini, besok maunya panen durian. Olahraga pagi, siangnya berharap jadi Cristiano Ronaldo.

Minum tiga telur ayam kampung,  berharap maljum, jreng, buka dikit joss.

Semua harus instan. Kalau tidak ada cashback, voucher, hadiah, atau transfer rekening, dianggap tidak ada manfaat.

Padahal banyak hal berguna justru tidak memberi keuntungan langsung. Bayar pajak tidak langsung membuat jalan muncul di depan rumah. Ikut sensus tidak langsung membuat saldo rekening bertambah.

Menanam pohon tidak langsung membuat udara sejuk lima menit kemudian. Tapi semua itu bagian dari mesin besar bernama negara.

Sayangnya video berakhir tanpa ending. Inilah yang membuat saya penasaran. Apakah sensusnya lanjut? Apakah pertanyaan berhasil dijawab?

Apakah ketiga petugas berhasil lolos dari labirin "untungnya buat saya apa?"

Ataukah hingga hari ini mereka masih duduk di ruang tamu itu, menjelaskan manfaat sensus untuk ke-847 kalinya?

Kita tidak tahu. Yang jelas, kalau suatu hari BPS membuat pelatihan khusus menghadapi pertanyaan filosofis tingkat tinggi, saya yakin bapak dalam video itu layak mendapat penghargaan.

Minimal piagam. Atau mungkin gelar kehormatan. Profesor Untungologi Terapan.

Karena hanya beliau yang mampu membuat tiga petugas sensus, satu negara, dan setengah isi internet berpikir keras tentang satu pertanyaan sederhana,  "Untungnya buat saya apa?" Untungnya seruput Koptagul apa?

Kredit:
Penulis: Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYN

Popular posts from this blog

Daftar Nama Obat Untuk Penyakit Hewan Ternak Dan Dosis Pemakaiannya

Perbedaan Antara Umur Dewasa Kelamin dan Dewasa Tubuh Ternak, Umur Berapa Siap Dikawinkan?

JEMBATAN KELEDAI