Sabtu, 16 Januari 2010

24 Tips Menempuh Kehidupan


 1.Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu. 

2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu. 

3. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan,karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.

4. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah. 

5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita. 

6. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya. 

7. Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya. 

8. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itupula. 

9. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi. 

10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan.Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia. 

11. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya. 

12. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu. 

13. Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang. 

14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka. 

15. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika da masih tetap peduli padanya. 

16. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kamu harus melepaskannya. 

17. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air mata. 

18.  Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya. 

19. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu,tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya. 

20. Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan, kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu. 

21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya. 

22. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu! Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu. 

23. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati. 

24. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang disekelilingmu tersenyum - jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang disekelilingmu menangis. (Sumber: Dudung.net)

7 HAL YANG TIDAK BISA KITA RUBAH


Dalam hidup ini ada 7 hal yang tidak bisa kita ubah. Yaitu:

1. Jenis kelamin 

Memang ada operasi untuk mengubah kelamin. Tapi tidak bisa mengubah roh (spirit) orang yang bersangkutan. Terimalah dirimu, apakah engkau wanita ataupun pria. Act like a woman/man!!

2. Orang tua. 

Tidak ada yang bisa memilih dilahirkan oleh orang tua yang mana. So, you must respect your parents!! Apakah orang tuamu seorang pemabuk, penjudi, pelacur sekalipun, you must respect them!! Kalau tidak, itu akan terjadi dalam kehidupanmu nanti. Your kids won't respect you, is it terrible?

3. Hari kelahiran. 

Sudah ditetapkan oleh Tuhan, sebelum dunia dijadikan. Amazing ha? But it's true. Jangan menyesali, mengapa engkau harus lahir ke dunia tapi disia-siakan oleh orang yang kau kasihi. Tuhan punya tujuan untukmu.

4. Bentuk Fisik 

Kalau engkau keriting, yah keriting aja. Kalau hidungmu pesek, terima itu. Saya banyak melihat orang yang mengubah bentuk wajahnya, apakah itu memancungkan hidung, alis matanya dicukur habis, dll, jadi kelihatan aneh dan tidak natural.

5. Masa lalu. 

Ini juga sudah ditetapkan oleh Tuhan. Jangan melihat ke belakang.� karena itu hanya membuat engkau "frozen" - can not do anything! Look at the future and see how good it is.

6. Kedudukan dalam keluarga.

Apakah engkau anak bungsu, sulung, atau tengah, you can not change it. Nikmati sajalah.

7. Suku bangsa/ras. 

Menyesal jadi orang Indonesia yang terus menerus dilanda kesulitan? Atau menyesal jadi orang Batak yang kalau menikah perlu upacara adat yang walahhhh mahal dan lama? Atau jadi orang Cina yang suka ditindas dan diintimidasi? hmmm.....

Nah, sekarang ubah cara berpikirmu. Tuhan sudah menetapkan engkau di bangsa ini untuk satu tujuan. So, do the best in your job, loyal, jangan korupsi, itu sudah menolong untuk memperbaiki bangsa kita ini.

Itulah 7 hal yang tidak bisa kita ubah. Kalaupun ada yang kita bisa ubah, misalnya: bentuk fisik, itu akan membawa kita ke dalam situasi yang tidak pernah puas. Selalu ingin ubah penampilan terus. Capek kan? Terimalah dirimu apa adanya, seperti Tuhan menerimamu. Memang dunia melihat rupa, tapi Tuhan melihat hati. Apa yang kau lakukan setiap hari itu lebih penting dari penampilanmu. Bukan berarti kau bisa berpenampilan seenaknya, tidak!! Tapi engkau harus menerima apa yang sudah Tuhan berikan padamu. Kulitmu yang hitam (manis), hidungmu yang kurang mancung, rambut yang lurus, kurang tinggi, dll, dsb deh. (Sumber: Dudung.net)

Mencintai Orang Yang Spesial...


Sangatlah menyakitkan mencintai seseorang tetapi tidak dicintai olehnya. Tetapi lebih indah untuk mencintai dan tidak pernah menemukan keberanian untuk memberitahu mereka apa yg kamu rasakan. 

Hanya perlu satu menit untuk menghancurkan seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang, satu hari untuk mencintai seseorang, tetapi membutuhkan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang. 

Cinta adalah ketika kamu membawa perasaan, kesabaran,dan roomantis dalam suatu hubungan dan menemukan bahwa kamu peduli dengan dia. 

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi. 

Ketika pintu kebahagiaan tertutup, yang lain terbuka, tetapi kadang-kadang kita menatap terlalu lama pada pintu yang telah tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka untuk kita. 

Teman yang terbaik adalah teman dimana kamu dapat duduk bersamanya dan merasa terbuai, dan tidak pernah mengatakan apa-apa dan kemudian berjalan bersama. Perasaan itu adalah percakapan termanis yg pernah kamu rasakan. 

Benarlah bahwa kita tidak tahu apa yang kita dapatkan sampai kita kehilangan itu?? tetapi benar juga bahwa kita tidak tahu apa yang hilang sampai itu ada. 

Memberikan seseorang semua cintamu tidak pernah menjamin bahwa mereka akan mencintai kamu juga!!! Jangan mengharapkan cinta sebagai balasan, tunggulah sampai itu tumbuh di dalam hati mereka. Tetapi jika tidak, pastikan dia tumbuh di dalam hatimu. 

Ada hal yang ingin kamu dengar, tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang dari mereka kamu ingin dengar. Tetapi jangan sampai kamu menjadi tuli walaupun kamu tidak mendengar itu dari seseorang yang mengatakan itu dari hatinya. 

Jangan pernah berkata selamat tinggal, jika kamu masih ingin mencoba. Jangan menyerah selama kamu merasa masih dapat maju. Jangan pernah berkata kamu tidak mencintai orang itu lagi, bila kamu tidak bisa membiarkannya pergi. 

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan. 

Jangan melihat dari wajah, itu bisa menipu! Jangan melihat dari kekayaan,itu bisa menghilang. Datanglah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum. karena sebuah senyuman dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah. Berharaplah kamu dapat menemukan seseorang yang dapat membuatmu tersenyum. 

Ada saat di dalam kehidupanmu dimana kamu sangat merindukan seseorang, kamu ingin mengambil mereka dari mimpimu dan benar-benar memeluk dia. Berharaplah bahwa kamu dapat bermimpi tentang dia, yang berarti mimpilah apa yang kamu impikan, pergilah kemana kamu ingin pergi, jadilah sesuai keinginan kamu, karena kamu hanya hidup sekali dan satu kesempatan untuk melakukan apa yang ingin dilakukan. 

Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia,cukup cobaan untuk membuat kamu kuat,cukup penderitaan untuk membuat kamu menjadi manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu bahagia. 

Selalu letakkan dirimu pada posisi orang lain. Jika kamu merasa bahwa itu menyakitkan kamu, mungkin itu menyakitkan orang itu juga. Kata-kata yang ceroboh dapat mengakibatkan perselisihan, kata-kata yang kasar bisa membuat celaka, kata-kata yang tepat waktu dapat mengurangi ketegangan, kata-kata cinta dapat menyembuhkan dan menyenangkan. 

Permulaan cinta adalah dengan membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak membentuk mereka menjadi sesuai keinginan kita dengan kata lain kita mencintai bayangan kita yang ada pada diri mereka. 

Orang yang bahagia tidak perlu memiliki yang terbaik dari segala hal. Mereka hanya membuat segala hal yang datang dalam hidup mereka. Kebahagiaan adalah bohong bagi mereka yang menangis,mereka yang terluka, mereka yang mencari,mereka yang mencoba. 

Mereka hanya bisa menghargai orang-orang yang penting yang telah menyentuh hidup mereka. Cinta mulai dengan senyuman, tumbuh dengan ciuman dan berakhir dengan air mata. Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. 

Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati. Ketika kamu lahir, kamu menangis dan semua orang di sekeliling kamu tersenyum. Hiduplah dengan hidupmu,jadi ketika kamu meninggal, kamu satu-satunya yang tersenyum dan semua orang di sekeliling kamu menangis. 

Karena kamu begitu berharga bagi orang di sekeliling kamu, tunjukkanlah cinta dari hatimu dan biarkan sekeliling kamu menyadari bahwa mereka berarti buat kamu dan kamu berarti bagi diri mereka. (Sumber: Dudung.net)

Rabu, 13 Januari 2010

Ambil Hikmahnya

KISAH KATAK KECIL

Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta…

Perlombaan dimulai…

Tak satu pun penonton benar-benar percaya bahwa katak - katak kecil akan bisa mencapai puncak menara.

Penonton bersorak

“Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak.”

“Tidak ada kesempatan untuk berhasil… Menaranya terlalu tinggi…!!
Katak-katak kecil mulai berjatuhan. Satu persatu… … Kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi…dan semakin tinggi..

Penonton terus bersorak

“Terlalu sulit!!! Tak seorang pun akan berhasil!”

Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah… …Tapi ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi… Dia tak akan menyerah!
Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak! SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?
Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan?

Ternyata…
Katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

Kata bijak dari cerita ini adalah:
Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis… karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu.

Selalu pikirkan kata-kata bertuah yang ada. Karena segala sesuatu yang kau dengar dan kau baca bisa mempengaruhi perilakumu!

Tetaplah selalu…. POSITIVE!

Berlakulah TULI jika orang berkata kepadamu bahwa KAMU tidak bisa menggapai cita-citamu!

Selalu berpikirlah: I can do this!

Berikan motivasi kepada teman-temanmu! Karena teman yang baik adalah teman yang bisa saling memberi motivasi satu sama lain.

PAKU DAN KEMARAHAN

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah.


Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas di hati orang lain seperti lubang ini. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik …”

~Author Unknown

ALLAH TAHU YANG TERBAIK BAGI KITA

Ada seorang raja yang selalu hidup sejahtera tanpa merasa kekurangan, tiada rasa sakit, resah bahkan gelisah.dan ia selalu didampingi penasehatnya yang bijak bestari yang selalu mengatakan, "takdir Allah pasti yang terbaik untuk kita". 

Pada suatu hari Sang Raja mengupas sebuah apel,.suatu pekerjaan yang belum pernah dikerjakan sebelumnya, yang akhirnya teririslah jari tangannya. Karena tak pernah merasakan kesakitan maka jari yang terluka itu amat menyiksanya. Kemudian dipanggilah sang Penasehat

Sang Raja menanyakan perihal kejadian tersebut, "Wahai penasehat, dengan luka ini apakah memang benar takdir Allah yang terbaik untuk kita?"

Menghadapi hal itu penasehat tetap mengatakan, "Takdir Allah pasti yang terbaik untuk kita.”

“Lalu mengapa aku begitu kesakitan? Apa memang ini yang terbaik???!!!” Sang Raja marah, lalu penasehat pun di jebloskan ke penjara.

Setelah seminggu kemudian, sang Raja melakukan perburuan ke hutan bersama beberapa prajuritnya tanpa didampingi penasehatnya. Pada saat beburu sang Raja terpisah dengan rombongan dan tersesat hingga masuk wilayah yang dihuni sekumpulan suku pedalaman. Saat itu suku pedalaman hendak memberikan persembahan untuk Dewa berupa tumbal. Melihat ada seorang rupawan masuk ke wilayah mereka, serta merta sang Raja yang tersesat di tangkapnya untuk dijadikan tumbal, lalu dihadapkan kepada kepala suku.

“Wahai Baginda, kami menemukan seorang yang rupawan yang pantas kita jadikan persembahan bagi Dewa Agung kita." mereka memberitahu hal tersebut kepada kepala suku.

"Bawa kemari dan perlihatkan padaku!" ujar kepala suku.

Setelah dilihat kepala suku mendapati luka pada jari Raja yang akan dijadikan tumbal.

Serentak kepala suku berkata, "Dia tidak pantas untuk dijadikan tumbal karena ada kecacatan pada jari tangannya.”

Dan dibebaskanlah raja itu. dengan terberit-berit sang Raja lari dan mencoba keluar. Setelah sampai diistana ia langsung menghampiri penasehatnya yang sedang mendekam dipenjara, lalu menceritakannya peristiwa yang dialaminya. Sang Raja mengakui akan benar perkataan penasehatnya bahwa takdir Allah pasti yang terbaik untuk kita.

KOIN PENYOK

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itu pun mengikuti anjuran si Teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si Kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

(Sumber: Pusat Motivasi Indonesia)



Minggu, 27 Desember 2009

Koalisi Hanya Untuk Mengkerdilkan Islam


Untuk apa koalisi (musyarokah), kalau akhirnya hanya akan mengkerdilkan Islam, dan menjauhkan dari kemuliaan? Keterlibatan partai-partai Islam di dalam pemerintahan, yang menggunakan wasilah politik dengan cara koalisi, nyata-nyata telah gagal. Tidak berhasil mempengaruhi dan mengarahkan, serta memperbaiki pemerintahan yang lebih dekat dengan nilai-nilai Islam.

Tidak sepantasnya partai-partai Islam melakukan koalisi mendukung sebuah pemerintahan, melalui sebuah ‘trade of’ (barter) dengan kursi di kabinet, tanpa ada tujuan yang sungguh-sungguh, disertai komitment yang jelas, serta langkah-langkah nyata, yang tujuannya menuju negara seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salam, dan berada di bawah naungan nilai-nilai Al-Qur’an, serta senantiasa berlindung dan bertahkim (berhukum) hanya kepada hukum Allah Azza Wa Jalla.

Ulama dan pendiri Jamaah Ikhwan, Hasan Al-Banna, memberikan arahan dengan sangat jelas, bahwa setiap langkah yang dilakukan para aktivis Islam, yang terlibat dalam pemerintahan, harus menuju ke arah perbaikan negara. “Membenahi pemerintahan, sehingga menjadi pemerintahan yang benar-benar Islami, dan ia dapat melaksanakan tugasnya sebagai pelayan umat dan bekerja untuk kemaslahatan mereka. Pemerintahan Islam adalah pemerintah yang anggota-anggotanya terdiri dari kaum muslimin yang menunaikan hal-hal yang diwajibkan oleh Islam, tidak melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan, dan menerapkan hukum-hukum Islam serta ajara-ajarannya”, tegasnya.

Diantara ciri-cirinya, menurut Hasan Al-Banna, seperti, rasa tanggung jawab, kasih sayang kepada rakyat, adil terhadap semua orang, menjaga diri dalam menggunakan harta negara (tidak menggunakan untuk kepentingan pribadi), dan sangat ekonomis dalam penggunaannya, serta tidak boros.

Syarat itulah yang perlu dipenuhi sebuah pemerintahan di dalam sebuah negara, yang menginginkan mendapatkan keberhasilan. Tentu, partai-partai Islam, yang sudah terlibat dalam sebuah koalisi dengan sebuah pemerintahan, harus mendorong para pemimpin pemerintahan yang ada, memiliki komitment yang kuat, khususnya bagi penegakan keadilan, dan memperbaikki kehidupan rakyat, tidak membiarkan kemungkaran, dan penyelewengan berlangsung di dalam kehidupan.

Para aktivis Islam yang masuk dalam pemerintahan dan melakukan koalisi, harus mengarahkan pemerintahan yang menjadi mitra koalisinya untuk sedapat mungkin mencukupi kebutuhan dengan menggunakan dan mendayagunakan potensi-potensi yang dimiliki, tanpa harus melakukan utang. Dibagian lain, para aktivis Islam, yang masuk dalam pemerintahan harus dapat mendorong pemerintah yang ada untuk berlaku efesien, tidak boros, yang mengarahkan kepada kemubaziran. Inilah prinsip-prinsip yang harus ditegakkan.

Tetapi, bila para aktivis Islam sudah berkoalisi dengan pemerintah yang menganut sistem sekuler (la diniyah), dan memilikki posisi lemah, dan tidak mampu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, serta memperbaiki sistem yang ada, dan bahkan ‘menggadaikan’ prinsip-prinsip (mabda’) yang dimilikinya demi sebuah kekuasaan, yang berwujud dalam jabatan menteri, maka ini akan sangat tidak bermafaat bagi aktivis Islam dan gerakannya. Langkah-langkah koalisi itu, hanyalah akan membuat gerakannya, yang menggunakan wasilah partai, ujungnya akan mengkerdilkan gerakan itu sendiri.

Hasan Al-Banna menegaskan secara asasiah (mendasar) sebuah gerakan Islam, dan para aktivisnya, tujuan jangka panjangnya, tak lain membangun sebuah sistem Islam. Bukan, justru para aktivis Islam, ikut mendukung dan melanggengkan sistem sekuler yang jahiliyah. Maka, bila gerakan Islam, dan para aktivisnya masih sangat lemah dan tidak signifikan secara politik (kualitatif dan kuantitatif), maka seharusnya tidak masuk dalam pemerintahan, dan melakukan ‘trade of’ dengan para penguasa. Tetapi, yang harus diutamakan adalah membangun kekuatan.

Tentu, yang lebih penting lagi, mendidik masyarakatnya (rakyatnya) yang masih banyak belum memahami tentang hakekat Islam. Inilah thoriqoh yang harus ditempuh. Tidak melakukan oportunisme dengan terlibat dalam pemerintahan, yang akhirnya hanya menjadi legitimasi bagi sistem dan pemerintahan sekuler. Sementara tujuan melakukan perbaikan terhadap kehidupan semakin jauh.

“Mengembalikan eksistensi kenegaraan bagi umat Islam, yaitu dengan memerdekaan negeri-negerinya, menghidupkan kembali kejayaannya, memadukan peradabannya, dan menyatukan kata-katanya, sehingga itu semua dapat mengembalikan khilafah yang telah hilang, dan persatuan yang diidam-idamkan. Sedangkan kepeloporan dunia (ustadziyatul ‘Alam) dapat diraih dengan meneybarkan dakwah Islam ke selulruh dunia”, ujar Hasan Al-Banna.

Tetapi, hari ini kebanyakan para aktivis gerakan Islam, banyak yang tidak sabar, dan ingin cepat memetik hasil, dan mereguk kekuasaan. Akhirnya, banyak diantara mereka yang berguguran di jalan kekuasaan, dan gerakan mereka menjadi kerdil, dan akhirnya akan hilang ditelan zaman. Wallahu’alam. (Eramuslim.com)

Jumat, 06 November 2009

Masihkah Belum Cukup Bagimu?

Mudah-mudahan kisah dibawah ini, bisa membuka mata kepala dan mata hati para petinggi negeri maupun para calon petinggi.

Tatkala Umar telah masuk ke dalam Islam, berarti ia telah menyerahkan dirinya secara total kepada Allah, dan tokoh itu senantiasa berbuat kebaikan. Agama Islam telah memberi neraca yang selurus-lurusnya. Karena itu, tabiatnya selalu peka dan waspada, tak mau terjatuh kepada sifat-sifat dan amal yang dilarang dan menyebabkan murka-Nya.


Tokoh yang memiliki perawakan tinggi besar itu, memiliki kamampuan mengatasi apa saja, ia bangkit dengan langkah-langkah yang teguh dalam menempuh jalan yang lurus, jalan keutamaan dan kewajiban. Umar tidak pernah menyimpangkan langkahnya dari jalan Allah Rabbul Alamin, dan jalan Rasulullah Shallahu Alaihi Wa sallam.

Tak ada bencana yang lebih ditakuti, yang dikhawatirkan akan menimpa keberuntungannya, selain bencana terkucil dan dijauhkan dari ridha Allah Azza Wa Jalla, dan menyimpang dari sunnah Rasul-Nya. Sebelum masuk Islam, ia selalu mencari kebenaran agar dapat diikutinya sesuai dengan bakat dan kemampuannya, dengan sifat dan kekuatan jiwanya.

Sekarang Umar telah mengenal al-haq dan kebenaran mutlak, yaitu menerima keimanan dari Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam tidak mungkin berbicara dengan kemauan dan hawa nafsunya, melainkan berdasarkan tuntunan Rabbul Alamin.

Umar telah mencatat, dan tidak pernah ia lupakan sepanjang hidupnya, ketika hari kelahirannya yang baru, ketika ia menjabat tangan Rasullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, dan seraya mengucapkan, “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah”. Dan, hari itu Umar menemukan keberuntungan dalam hidupnya yang paling mulia, sesudah ia mengucapkan dua kalimah syahadat.

Keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya serta agamanya, tidak pula demi mendapatkan sesuatu keuntungan. Ia melakukan semuanya secara sadar yang digerakkan oleh lubuk hatinya.

Maka, ketika pertama kali didengar firman Allah, yang dibacakan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, kepadanya, “Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan kalian tidak akan dikembalikan?”. Ayat itu seakan khusus diturunkan untuk dirinya sendiri. Disadarinya bahwa usia manusia itu sangatlah pendek. Padahal, betapapun panjang usia manusia, katakanlah seperti Nabi Nuh Alaihi Sallam, yang mencapai 950 tahun, bahkan mencapai beribu-ribu tahun, takan akan pernah cukup untuk mebalas nikmat-Nya yang telah diberikan kepada manusia.

Umar sangat takut ucapan-ucapannya yang keluar dari mulutnya akan menyimpang dari garis kebenaran. Begitu pula ia mengkhawatirkan perbuatan-perbuatannya tergelincir dari jalan kebenaran. Ia sangat cemas, jika kehidupan yang suci itu akan ternodai oleh dosa disebabkan walau hanya syubhat. Umar ingin hidupnya dijauhkan dari segala keburukan, bencana, dan kekafiran. “Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”. Itulah yang menyebabkan Umar selalu gelisah.

Umar yang gagah itu menjadi sangat kurus. Karena jarang memejam matanya. Makannya sangat sedikit, hanya sekedar agar dapat hidup. Pakaiannya terbuat dari bahan yang kasar. Umar boleh dikatakan jarang tidur, hingga boleh dikatakan selalu terjaga. “Jika saya tidur malam, berarti saya menyia-nyiakan diri saya. Dan, jika saya tidur siang, berarti saya mengabaikan rakyat jelata .. !”.

Kepada setiap orang yang ditemuinya, selalu ditanyakannya sambil mengeluh dan dengan sungguh-sungguh. “Atas nama Allah, jawablah pertanyaan saya dan jangan berdusta!”, ucap Umar. “Bagaimana pandangan anda terhadap Umar? Apakah menurutmu Allah akan ridha kepadanya? Dan, apakah menurut pendapatmu Umar itu tiada mengkhianati Allah dan Rasul-Nnya”, tanya Umar kepada rakyatnya. 

Rasa malu, kecemasan, ketakutan, dan semua kamauan baik, serta cita-cita mulia, sebabnya tiada lain, hanyalah, karena Umar bingung, dan tidak tahu apa yang akan dikatakannya kepada Rabbnya nanti?

Sementara, di hari ini, segala kedurhakaan, kenistaan, dan kekafiran, yang pernah dilakukan umat-umat terdahulu, semuanya telah terjadi. Apa yang pernah dilakukan kaumnya Nabi Nuh, Nabi Sueb, Nabi Luth, dan Musa, telah ada di zaman ini.

Apakah para pemimpin hari ini masih belum cukup dengan pelajaran dari umat terdahulu yang mendapat azab dari Allah Azza Wa Jalla akibat kelaian mereka terhadap Rabbnya. Dan, masihkan dapat tidur dengan nyenyak melihat berbagai hal yang terang-terangan melanggar ketentuan-Nya. Wallahu’alam
(Sumber: Eramuslim)

Selasa, 29 September 2009

Doa Penutup Majelis Menghapus Dosa Majelis

Salah satu ciri utama orang bertaqwa ialah semangatnya untuk memohon ampun kepada Allah. Ia sangat menyadari jika dirinya sebagaimana manusia lainnya tidak luput dari dosa dan kesalahan. Maka Muttaqin senantiasa mencari jalan untuk selalu diampuni segenap dosanya oleh Allah. Bila ia tahu ada suatu amal-perbuatan yang dapat menghapus dosanya maka dengan segera ia akan kerjakan bila ia sanggup.

“Dan (Muttaqin juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran ayat 135)

Bila manusia sedang berkumpul biasanya mereka tidak lepas dari pembicaraan satu sama lain. Setiap kali manusia berkumpul lalu terlibat dalam suatu pembicaraan maka itu merupakan sebuah majelis. Setiap kali orang berkumpul banyak sekali hal yang bisa mereka bicarakan. Pembicaraan bisa berkisar dari hal-hal bermanfaat hingga hal-hal yang tidak bermanfaat.

Islam sebagai ajaran yang bersumber dari Allah Yang Maha Tahu dan Maha Mendengar sangat memperhatikan masalah majelis. Islam tidak membenarkan sekumpulan orang terlibat dalam pembicaraan yang sia-sia apalagi mengandung dusta dan kebatilan. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengkaitkan masalah kualitas pembicaraan seseorang dengan keimanan kepada Allah dan Hari Akhir.

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Barangsiapa beriman kpd Allah dan Hari Akhir hendaklah bicara yang baik atau diam.” (HR Bukhari-Muslim)

Dalam suatu kesempatan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memberi nasihat sorang sahabat mengenai pentingnya menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia apalagi munkar.

Dari Sufyan Abdullah Ats-Tsaqafy radhiyallahu ’anhu ia berkata: ”Aku berkata: “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang harus aku pelihara.” Beliau menjawab: “Katakanlah: ‘Rabbku Allah kemudian beristiqamahlah’.” Aku kembali bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang engkau paling khawatirkan terhadap diriku?” Beliau lalu memegang lidahnya sendiri dan bersabda: “Ini (lisan)”. (HR Tirmidzi 2334) 

Oleh sebab itu Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengajarkan ummatnya agar senantiasa mengakhiri setiap majelis –apapun bentuk majelisnya- dengan membaca do’a kaffaratul-majelis atau do’a penutup majelis. Sebab dengan demikian maka dosa-dosa pembicaraan yang dilakukan –sengaja maupun tidak- di dalam majelis tersebut akan dihapus oleh Allah melalui do’a tersebut.


Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu ia berkata: “Jika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam hendak bangun dari suatu majelis beliau membaca: Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika “Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagiMu, aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Engkau aku mohon ampun dan bertaubat kepadaMu". Seorang sahabat berkata: “Ya Rasulullah, engkau telah membaca bacaan yang dahulu tidak biasa engkau baca?” Beliau menjawab: “Itu sebagai penebus dosa yang terjadi dalam sebuah majelis.” (HR Abu Dawud 4217)
(Sumber: Eramuslim).

Jangan Pernah Berputus Asa

وَلاَ تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya : “… Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS. Yusuf : 87)

قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّآلُّونَ

Artinya : “Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat". (QS. Al Hijr : 56)

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’du ayat 28)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah ayat 4)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah ayat 186)

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Doa orang yang sedang menderita (kesedihan yang mendalam) ialah: “Ya Allah, RahmatMu aku harapkan, janganlah Engkau serahkan segala urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku, tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau.” (HR Abu Dawud)

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

 أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Sedekat-dekatnya hamba kepada Rabbnya ialah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah do’a.” (HR Muslim)

Ingatlah betapa takjubnya Rasulullah terhadap fenomena orang beriman (mukmin) seperti tergambar dibawah ini :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman! Sesungguhnya semua urusannya baik. Dan yang demikian tidak dapat dirasakan oleh siapapun selain orang beriman. Jika ia memperoleh kebahagiaan, maka ia bersyukur. Bersyukur itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa mudharat, maka ia bersabar. Dan bersabar itu baik baginya.” (HR Muslim 5318)

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”(HR Muslim 4899)

" Yaa Allah, lapangkanlah selalu hati kami untuk menerima apapun yang telah Engkau rencanakan kepada kami, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang beriman".

Wallahua'lam bishshowab.

Minggu, 27 September 2009

Penyakit Al-Wahan

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud)

Kamis, 17 September 2009


Selasa, 08 September 2009

Biarkan Masa Depan Datang Sendiri

" Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan(datang)nya" (QS. An-Nahl: 1)

Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah anda mau mengeluarkan kandungan sebelum waktunya dilahirkan, atau memetik buah-buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum berwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. Jika demikian mengapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan bencana-bencana yang bakal ada didalamnya? Bukanakah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan?

Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke bumi, maka tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai di atasnya. Sebab siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti jalan kita sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya.

Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru diduga darinya, adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya hal itu termasuk thulul amal (angan-angan yang terlalu jauh). Secara nalar tindakan itupun tidak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia didunia ini justru banyak yang termakan oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan krisis ekonomi yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal semua itu hanyalah bagian dari kurikulum yang di ajarkan di "sekolah-sekolah setan".

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia" (QS Al-Baqarah: 268)

Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di "genggaman yang lain" tentu tidak akan menggadaikannya untuk sesuatu yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak berwujud.

Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti petakanya. Sebab hari ini anda sudah sangat sibuk.

Jika anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit didalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu hindarilah angan-angan yang berlebihan. (La Tahzan, DR. 'Aidh al-Qarni)

Minggu, 30 Agustus 2009

Kurma: Keajaiban dan Manfaatnya Untuk Buka Puasa


Tidak salah lagi, kurma sudah pasti jadi makanan favorit khas Ramadhan. Sebagai makanan pembuka, kurma memang berada di urutan paling atas yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Tapi kita mungkin belum begitu mengetahui ada apa di balik buah kurma itu sebenarnya. Manfaat apa saja yang ada dalam buah kurma sehingga Rasul yang menganjurkan kurma sebagai salah satu menu buka puasa kita?

Sejarah kurma

Kurma berasal dari jazirah Arab (Timur Tengah), dan nama latinnya adalah Phoenix dactilyfera. Dinamakan begitu konon karena memang ada hubungannya dengan burung Phoenix yang bisa bereinkarnasi setiap kali ingin mati—Ini kepercayaan orang Mesir dan Yunani kuno.

Beberapa tahun ini, beberapa peneliti Israel mulai melirik untuk membudidayakan pohon kurma (seperti dilansir LiveScience.com). Israel menanam biji kurma yang usianya sampai 2000 tahun. Sampai sekarang, nih pohon baru setinggi 30 cm. Rencananya sih mereka bakal meneliti DNA pohon itu biar tahu bisa tidak pohon zaman purba memberikan manfaat buat kehidupan modern.

Manfaat kurma

Banyak manfaat kurma yang baru terkuak di zaman ini, khususnya buat kesehatan. Dari Salman ibn 'Aamir, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada, maka dengan air karena air itu bersih dan suci.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Kenapa mesti kurma? Jika kita berbuka puasa, organ pencernaan kita (khususnya lambung) butuh sesuatu yang lembut biar bisa bekerja lagi dengan baik. Jadi makanannya harus yang mudah dicerna dan juga mengandung gula dan air dalam satu makanan. Tidak ada makanan yang mengandung gula dan air yang lebih baik daripada yang disebutkan oleh hadits Rasul. Nutrisi makanan yang paling cepat bisa dicerna dan sampai ke darah itu adalah zat gula, terlebih makanan yang mengandung satu atawa dua zat gula (kalau tidak glukosa, ya sukrosa).

Nah, untuk hal ini kurma adalah makanan yang paling baik. Kurma mengandung zat gula yang tinggi yaitu antara 75-87% dan glukosanya sebanyak 55%, fructose (fraktosa) 45% lebih tinggi dari jumlah protein, minyak dan beberapa vitamin (seperti vitamin A, B2, B12), dan sejumlah zat penting laen kayak kalsium, phosphor, potassium, sulfur, sodium, magnesium, cobalt, seng (zinc), florin, nuhas (tembaga), salyolosa, dan sebagainya. Fraktosa bakal diubah jadi glukosa dengan cepat dan langsung diserap oleh organ pencernaan, lantas dikirim ke seluruh tubuh, khususnya ke organ-organ inti seperti otak, syaraf, sel darah merah, dan sel pembersih tulang.

Seperti yang kita ketahui, di ujung puasa kita setiap harinya, glukosa dan insulin dalam darah yang datang ke katup hati akan bergetar. Artinya proses buka puasa kita bakal meminimalisir pemakaian glukosa yang diambil dari organ hati dan sel-sel ujung (seperti otot-otot en sel syaraf) jadi sesuatu yang bisa menghilangkan setiap zat yang terkandung dalam gelokogen hati. Saat-saat seperti ini, organ-organ sangat bergantung untuk mendapatkan energi dari CO2 (karbondioksida) kimiawi dan oksida glukosa yang terbentuk dalam hati dari asam amino dan gleserol.

Jadi, melentur dan memanjangnya organ penyerap makanan jadi sangat berarti. Maksudnya, penyerapan glukosa yang cepat di dalam katup pembuluh darah vena di hati akan masuk ke dalam organ hati untuk pertama kalinya, kemudian masuk ke sel otak, organ pencernaan, otot-otot, dan seluruh jaringan tubuh yang laen. Makanya, zat gula itu makanan terbaik buat tubuh karena bisa menghentikan oksidasi karbon kimiawi, memangkas zat-zat berbahaya dalam tubuh, dan bisa meminimalisir lemahnya serta gemetarnya organ pencernaan. Cukup rumit ya?

Dr. Hissam Syamsi Basya dalam tulisannya menjelaskan berdasarkan penelitian biokimia, satu kurma yang kita makan itu mengandung air 20-24%, gula 70-75%, 2-3% protein, 8,5% serat, dab sedikit sekali kandungan lemak jenuhnya (lecithine). Lain lagi dengan kurma mengkel (atau Ruthab) yang mengandung 65-70% air, 24-58% zatgula, 1,2-2% protein, 2,5% serat, dan sedikit mengandung lemak jenuh. Dr. Ahmad Abdul Ra’ouf en Dr. Ali Ahmad Syahhat pernah melakukan penelitian kimiawi dan fisiologi terhadap kurma, hasilnya? Menakjubkan! Coba lihat:
Jika kita buka puasa dengan kurma ruthab atawa tamar, persentase kandungan zat gula kita akan naik, artinya bisa membantu mengilangkan penyakit anemia (kurang darah). Oya, ruthab itu artinya kurma yang mengkel, yang masih segar, dan juga matang di pohon. Nah, kalo tamar itu kurma matang kering yang banyak terdapat di Indonesia (misalnya yang banyak dijual di Pasar Tanah Abang, Jakarta).
Waktu lambung kosong karena tidak makan seharian, pas buka, lambung, akan lebih gampang mencerna dan menyerap makanan kecil yang mengandung gula, malah lebih cepat dan maksimal lagi.
Kandungan zat gula dalam ruthab dan tamar (tentunya dalam bentuk kimia sederhana) menjadikan proses pencernaan di lambung jadi sangat mudah, soalnya 2/3 zat gula yang ada dalam tamar dan ruthab bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dalam waktu yang singkat.
Selain itu, kita juga tidak perlu minum banyak-banyak lagi sewaktu buka jika kita makan ruthab atau tamar, karena sudah mengandung air 65-70%?! Tetapi sangat tidak dilarang untuk minum pun.

Subhanallah. Tidak heran jika Rasulullah menganjurkan kurma sebagai salah satu makanan pembuka puasa kita yang utama. (in/sa/berbagaisumber) www.eramuslim.com

Hadits Tidurnya Orang Puasa Ibadah, Lemah bahkan Palsu


Ramadhan bulan ibadah bagi setiap muslim. Bulan yang didalamnya diperintahkan untuk berpuasa, shalat tarawih, membaca al Qur’an, bersedekah, iti’kaf pada sepuluh hari terakhirnya. 

Berbagai amal-amal ketaatan diperintahkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan ini sebagai sebab untuk mendapatkan surga Allah yang pintu-pintunya dibuka khusus di bulan ini dan hendaklah menjauhi berbagai pelanggaran dan kemaksiatan yang dapat mendorongnya kedalam neraka, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Apabila datang Ramadhan : pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Muslim)

Untuk itu hendaklah setiap muslim bersabar didalam melaksanakan amal-amal tersebut menjadikan waktu-waktunya penuh dengannya dan menyedikitkan waktu tidurnya. Tidaklah dibenarkan seorang yang berpuasa hanya menghabiskan sepanjang siangnya dengan tidur meskipun hal ini tidaklah diharamkan selama dirinya masih menunaikan kewajiban-kewajiban shalat pada waktu-waktunya. 

Tidaklah banyak kebaikan dan keberkahan yang bisa diraih oleh orang yang mengisi waktunya hanya dengan tidur saja karena dirinya telah kehilangan banyak kesempatan beramal taat. 

Banyaknya tidur akan menafikan hikmah dari disyariatkannya berpuasa yaitu untuk melakukan jihad dengan dirinya melawan berbagai tarikan-tarikan hawa nafsu dan syahwatnya selama puasa. 
Hadits ”Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” terdapat didalam kitab ”Ihya Ulumuddin” milik Imam Ghazali. Namun al Iroqi mengatakan bahwa kami meriwayatkannya didalam ”Amalii Ibnu Mundah” dari riwayat Ibnul Mughiroh al Qowas dari Abdullah bin umar dengan sanad lemah atau mungkin Abdullah bin ’Amr. 

Adapun hadits lainnya yang berbunyi,”Tidurnya orang yang berpuasa ibadah, diamnya tasbih, doanya diijabah dan amalnya diterima.” maka menurut Syeikh Al Bani didalam kitabnya ”as Silsilah adh Dhaifah wa al Maudhu’ah” (10/230) adalah lemah.

Hadits itu diriwayatkan oleh Abu Muhammad bin Sho’id didalam ”Musnad Ibnu Abi Aufa” (2/120), ad Dailamiy (93/4) dan al Wahidiy didalam ’Al Wasith” (1/65/1) dari Sulaiman bin Amr dari Abdul Malik bin Umair dari Ibnu Abi Aufa.

Al Bani mengatakan bahwa hadits ini palsu, Sulaiman bin Umar adalah Abu Daud an Nakh’i adalah seorang pendusta. 

Pemilik kitab ”Faidhul Qodir” mengatakan bahwa didalamnya terdapat Ma’ruf bin Hasan—ia adalah salah seorang—yang lemah sedangkan Sulaiman bin Umar an Nakh’i adalah orang yang lebih lemah darinya. 

Al Hafizh al Iroqi mengatakan bahwa didalam hadits itu terdapat Sulaiman an Nakh’i ia adalah salah seorang pendusta. (Faidhul Qodir juz VI hal 290) 

Dengan demikian tidurnya orang yang berpuasa bukanlah ibadah karena hadits itu tidak benar berasal dari Rasulullah saw.

Wallahu A’lam 

(Sumber : Ust. Sigit Pranowo Lc/ www.eramuslim.com )

Sabtu, 22 Agustus 2009

Alhamdulillah......Masih Bisa Bertemu Ramadhan Lagi


Marhaban Yaa Ramadhan...Marhaban yaa Sahrul Qur'an.. Sebuah spanduk menyambut kedatangan bulan suci Ramdhan terpampang melintang di atas jalan disamping sebuah musholla yang insya Allah setiap bulan Ramadhan selalu penuh jamaah tarawih meskipun hanya di awal-awal bulan saja penuhnya, alhamdulillah, daripada tidak pernah penuh sama sekali. Kegiatan tadarus juga tetap ada, kultum subuh juga masih bertahan mudah-mudahan bisa sebulan penuh karena tahun lalu cuma setangah bulan.

Alhamdulillah....adalah ucapan yang seharusnya keluar dari mulut seorang muslim ketika Ramadhan tiba, kenapa? Karena inilah ungkapan rasa syukur dari seorang muslim yang masih diberi kesempatan untuk bisa me"manen" pahala sebanyak-banyaknya meskipun dengan amalan yang kelihatannya cuma sederhana. Karena Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda atas semua amal ibadah yang dikerjakan selama bulan Ramadhan.

Alhamdulillah....juga merupakan wujud syukur karena Allah telah memanjangkan umur kita setahun dari Ramadhan tahun lalu hingga memasuki Ramadhan tahun ini. Bagaimana Ramadhan tahun depan? wallahua'lam, bisakah kita menemuinya lagi? hanya Allah yang Maha Tahu. Seperti sebuah tulisan yang juga terpampang di spanduk samping musholla untuk sekat jamaah putri biar tidak "masuk angin" yang berbunyi : Tips cerdas untuk bisa sukses adalah INGATLAH MATI yang berciri 3 hal yaitu : Mati itu PASTI, Mati itu Ghaib, Mati itu TIBA-TIBA. Subhanallah!! sebuah tulisan yang sederhana tapi bermakna sangat dalam. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati, itulah janji Allah dalam Alquran dan janji Allah adalah selalu tepat dan pasti terjadi.

Alhamdulillah....atas semua rezeki yang telah dikaruniakan Allah dari Ramadhan tahun lalu hingga Ramadhan tahun ini. Apabila kita mau berhitung berapa rezeki yang telah Allah limpahkan selama setahun yang lalu niscaya dengan komputer tercanggihpun kita tidak akan mampu menghitungnya. Janganlah kita cuma berfikir yang namanya rezeki itu hanya harta atau uang tapi semua yang telah Allah limpahkan kepada kita adalah rezeki seperti kesehatan, anak keturunan, tetangga yang baik, teman yang baik, udara dan air yang bersih dll...dll..dll. Kita tidak akan bisa menyebutkannya satu persatu.

Alhamdulillah....Alhamdulillah kita masih diberi fasilitas yang bernama Ramadhan, kenapa Ramadhan kita sebut fasilitas? Seperti tulisan teman saya, Ramadhan adalah fasilitas untuk orang muslim untuk meningkatkan derajat ketaqwaannya tentu saja bagi yang mau, karena namanya juga fasilitas maka boleh dipakai boleh juga tidak terserah masing-masing individu. Dan semua pilihan tentu ada konsekuensinya masing-masing yang akan ditanggung oleh si pemilih dan bukan oleh orang lain. Ramadhan adalah fasilitas kita untuk bisa beribadah bahkan sampai 1000 bulan dimana umur umat nabi Muhammad sangat jarang  sampai apabila dihitung sebagai bulan-bulan biasa. Masihkah fasilitas ini akan kita sia-siakan? Kenyataan membuktikan bahwa kebanyakan dari kita masih meremehkannya, na'udzubillah.

Alhamdulillah...kita diberi kesempatan menghidupkan malam Ramadhan dengan tarawih berjamaah dan tadarus yang pada bulan-bulan selain Ramadhan kita sangat berat mengerjakannya. Inilah bukti bahwa suatu amalan yang kita kerjakan secara berjamaah, yang tentunya harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya akan lebih ringan dan lebih indah untuk dikerjakan. Kalau kita ingat dibulan selain Ramadhan, alangkah beratnya melaksanakan sholat malam (tahajud), alangkah malasnya untuk tilawah Alquran, alangkah susahnya untuk bisa sholat wajib berjamaah di masjid/musholla. Kenapa? karena kita sholat malam sendirian melawan dingin dan kantuk, membaca Alquran sendirian dirumah yang pasti banyak godaannya, aktifitas ditempat kerja yang jauh dari musholla maupun karena kesibukan yang kadang kita lebih pentingkan daripada sholat, padahal seharusnya sholat adalah perkara terpenting yang harus dikerjakan seorang muslim ketika waktunya tiba atau ketika mendengar adzan berkumandang. Subhanallah...mudah-mudahan Allah memberi kita kekuatan untuk menegakkannya..Aamiiiin.

MARHABAN YAA RAMADHAN.......SEMOGA ALLAH MEMBUKAKAN HATI HATI KITA UNTUK BISA SELALU MELIHAT BAHWA PERKARA YANG HAQ ITU HAQ ADANYA DAN MEMBERI KITA KEKUATAN UNTUK MELAKSANAKANNYA DAN PERKARA YANG BATIL ITU BATIL ADANYA DAN ALLAH MEMBERI KITA KEKUATAN UNTUK MENJAUHINYA. AAMIIN YA RABBAL 'AALAMIIN.

Wallahua'lam bishshowab.

Rabu, 03 Juni 2009

KATA-KATA KASAR

Saya bersenggolan dengan seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. 
"Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. 
Ia berkata, "Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda." 
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami 
berpisah dan mengucapkan selamat tinggal. 

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita 
memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. 

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki 
saya berdiri diam-diam di samping saya. 
Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata 
saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. 
Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika 
saya berbaring di tempat tidur, 
dengan halus Tuhan berbicara padaku, 

"Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika 
kesopanan kamu gunakan, 
tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan 
sewenang-wenang. 
Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga 
dekat pintu." "Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; 
merah muda, kuning dan biru. 
Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan 
ia buat bagimu, 
dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu." Seketika aku 
merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. 

Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat 
tidurnya, "Bangun, nak, 
bangun," kataku. "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" 
Ia tersenyum, " Aku menemukannya jatuh dari pohon. " 
"Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. 
Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru." 
Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; 
Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi." 
Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu. " 
Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar 
menyukai bunga-bunga ini, 
apalagi yang biru." 

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana 
kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita 
dalam hitungan hari? 
Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama 
sisa hidup mereka. Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam 
kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, 
suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan? 

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? 
Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA? 
 
Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY. 
FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou. 
Teruskan cerita ini kepada orang-orang yang kau pedulikan.

Senin, 18 Mei 2009

Masihkah kita ragu dengan AL QUR'AN dan Allah SWT?

 The very interesting findings of the Holy Qur'an 

Tahukah anda, di dalam Al Qur'an terdapat kata-kata LAKI-LAKI sebanyak 24 dan kata-kata PEREMPUAN juga berjumlah yang sama sebanyak 24 ? 

Tahukah anda, di dalam Al Qur'an terdapat kata-kata DUNIA sebanyak 115 dan kata-kata AKHIRAT juga berjumlah yang sama sebanyak 115 ? 

Tahukah anda, di dalam Al Qur'an terdapat kata-kata MALAIKAT sebanyak 88 dan kata-kata SYAITHAN juga berjumlah yang sama sebanyak 88 ? 

Tahukah anda, di dalam Al Qur'an terdapat kata-kata HIDUP sebanyak 145 dan kata-kata MATI juga berjumlah yang sama sebanyak 145 ? 

Tahukah anda, di dalam Al Qur'an terdapat kata-kata LAUT sebanyak 32 dan kata-kata DARATAN berjumlah sebanyak 13 ? 

Dimana 32 + 13 = 45 

Luas Lautan 32/45 x 100% = 71,11% dari permukaan bumi dan Luas Daratan 13/45 x 100% = 28,89% dari permukaan bumi. Dan ini terbukti... 


The Very interesting findings of Dr. Tariq Al Swaidan might grasp your attention: 

Dr.Tarig Al Swaidan discovered some verses in the Holy Qur'an

That mention one thing is equal to another, ! i.e. men are equal to women. 

Although this makes sense grammatically, the astonishing fact is that the number of times the word man appears in the Holy Qur'an is 24 and number of times the word woman appears is also 24, therefore not only is this phrase correct in the grammatical sense but also true mathematically, i.e. 24 = 24. 
 
Upon further analysis of various verses, he discovered that this is consistent throughout the whole Holy Qur'an where it says one thing is like another. 

See below for astonishing result of the words mentioned number of times in Arabic Holy Qur'an.

- Dunia (one name for life) 115 . Aakhirat (one name for the life after this world) 115 

- Malaika (Angels) 88 . Shayteen (Satan) 88  

- Life 145 ...... Death 145 

- Benefit 50 . Corrupt 50  

- People 50 .. Messengers 50  

- Eblees (king of devils) 11 . Seek refuge from Eblees 11. 

- Museebah (calamity) 75 Thanks ! 75  

- Spending (Sadaqah) 73 Satisfaction 73 

- People who are mislead 17 Dead people 17  

- Muslimeen 41 .J Jihad 41 

- Gold 8 .E Easy life 8  

- Magic 60 .F Fitnah (dissuasion, misleading) ! 60 . 

- Zakat (Taxes Muslims pay to the poor) 32 Barakah (Increasing or blessings of wealth) 32 . 

- Mind 49 . Noor 49  

- Tongue 25 .S Sermon 25  

- Desite 8 .F Fear 8  

- Speaking publicly 18 P Publicising 18 . 

- Hardship 114 .... Patience 114  

- Muhammed 4 .S Sharee'ah ( Muhammed's teachings) 4 . 

- Man 24 . Woman 24  
  
And amazingly enough have a look how many times the following words appear:  

Salat 5 , Month 12 , Day 365 , Sea 32 , Land 13  

Sea + land = 32 +13 = 45 

Sea = 32/45*100q.= 71.11111111%  

Land = 13/45*100 = 28.88888889%  

Sea + land 100.00%  

 Modern science has only recently proven that the water covers 71.111% of the earth, while the land covers 28.889%.  

Is this a coincidence? Question is that Who taught Prophet Muhammed (PBUH) all this?  

Reply automatically comes in mind that ALMIGHTY ALLAH taught him.  

This as the Holy Qur'an also tells us this. please pass this on to all your friends Aayah 87 of Suraa (Chapter) Al-Ambiyaa ! para 17 : 
LA ILAHA ILA ANTA SUBHANAKA INI KUNTU MINA ZALIMEEN. 

Rabu, 13 Mei 2009

Kikis Kolesterol, Lindungi Jantung, Natural Healing


Jeruk bali bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan pektinnya lebih banyak dibandingkan dengan jeruk jenis lain. Pektin inilah yang dipercaya mampu menurunkan kolesterol sekaligus mengurangi risiko sakit jantung. 


Hampir semua orang kenal jeruk bali. Rasa dan bentuknya khas. Kulitnya sering dimanfaatkan anak-anak di pedesaan sebagai bahan baku mobil-mobilan. 
Daging buahnya yang segar dan banyak mengandung air, bisa langsung dimakan setelah dikupas atau sebagai campuran salad maupun rujak. 
Buahnya yang berwarna putih dapat dijadikan manisan setelah dibuang bagian kulit luarnya yang banyak mengandung kelenjar minyak. Di Vietnam, bunganya yang harum digunakan untuk membuat parfum. Bukan hanya itu, kayunya juga sering dimanfaatkan untuk gagang perkakas alat dapur. 

Jeruk bali bermanfaat menurunkan kolesterol dan melawan penyakit jantung. Kenyataan tersebut diungkapkan peneliti asal Israel seperti yang dirilis di berbagai situs kesehatan dunia. 

Penelitian tersebut melibatkan 57 orang dengan kadar kolesterol tinggi dan baru menjalani operasi bypass pembuluh darah koroner. Kandungan lemak yang sangat tinggi menyebabkan tubuh pasien kebal terhadap obat-obatan yang biasa dipakai untuk menurunkan kadar kolesterol. 
Pasien-pasien tersebut kemudian dibedakan menjadi tiga kelompok. *Kelompok pertama diberi hidangan jeruk bali dengan daging buah berwarna merah selama 30 hari berturut-turut. *Kelompok kedua diberi jeruk bali warna putih. *Kelompok terakhir tidak diberi jeruk bali sama sekali. 

Hasilnya, pasien kelompok pertama dan kedua sama-sama mengalami penurunan lemak darah, sedangkan pasien di kelompok terakhir tidak mengalami perubahan apa pun. Diketahui pula bahwa jeruk bali merah diyakini lebih efektif menurunkan kadar lemak, khususnya trigliserida. 

Kandungan likopen jeruk bali berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut para peneliti, daging buah segar maupun jusnya memiliki manfaat yang sama. Temuan-temuan ini dilaporkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry. 

Antibakteri 

Para ahli dari Universitas Jagiellonian, Polandia, menemukan, ekstrak jeruk bali mengandung antibakteri dan antioksidan yang bisa "menenangkan" sistem getah perut untuk membantu proses penyembuhan. Dr. Thomas Brzozowski, ketua penelitian, menyarankan agar para penderita tukak lambung memasukkan jeruk ke dalam diet mereka meski secara alamiah mengandung asam. 
Selama ini penderita luka lambung diminta tidak memasukkan jeruk ke dalam diet mereka, tetapi penelitian ini justru menyarankan sebaliknya. Ekstraknya diyakini bisa mengurangi kadar enzim COX-1 dan COX-2 yang ada dalam obat-obatan. 
Kondisi ini memainkan peran utama dalam upaya penyembuhan lambung. Para peneliti yakin ekstrak jeruk bali mampu menyatu dengan kedua enzim itu dalam proses penyembuhah lambung. 

Tak hanya bermanfaat menjaga kesehatan jantung dan lambung, jeruk bali juga baik untuk kesehatan gusi karena kadar vitamin C-nya tinggi. Hal ini diungkapkan Peneliti di Universitas Friedrich Schiller, Jerman, yang menemukan kaitan kesehatan gusi pada mereka yang banyak mengonsumsi jeruk bali. 
Penelitian melibatkan 58 responden yang mengalami kerusakan gusi yang cukup parah. Kenyataannya, jeruk bali membawa dampak positif setelah dikonsumsi setiap hari selama sekitar dua minggu. Bahkan, dampak positif itu juga berlaku bagi perokok maupun bukan perokok. Seperti diketahui merokok adalah salah satu penyebab utama kerusakan gusi.. 

Manfaat lain jeruk bali, yakni membersihkan sel darah merah yang telah tua didalam tubuh dan menormalkan hematokrit (persentase sel darah per volume darah). Sekaligus sebagai sumber antioksidan penangkal kanker. 

Jus Paling Favorit 

Selain dikonsumsi segar, jeruk bali sering diolah dalam bentuk jus. Saat membuat jus, Anda dapat mencampur jeruk bali dengan bahan atau buah lainnya, sehingga rasanya jadi lebih nikmat. 

Berikut contoh meramu jeruk bali yang baik untuk kesehatan: 
#Sumber vitamin C dan penurun kolesterol 
Konsumsi dua "siung" (helai dalam buah) jeruk bali ukuran sedang setiap hari untuk mendapatkan manfaatnya secara maksimal. 
#Minuman antioksidan dan antikanker 
Ambil satu buah jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas dan dibuang isinya. Masukkan ke dalam blender, tambahkan air secukupnya. Dapat juga ditambahkan satu sedok madu dan buah lainnya seperti mangga atau pir. 
Cara lain, ambil satu buah jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas dan dibuang isinya, dan 1 cm jahe kupas. Masukkan seluruh bahan tersebut ke blender dengan ditambah sedikit air. 
#Manisan 
Potong-potong daging kulit jeruk bali (kulit luarnya dibuang) berbentuk juring, rebus dengan api kecil selama 60 menit. Buang air rebusannya, tiriskan, lalu timbang. Siapkan gula pasir sama beratnya dengan berat kulit jeruk yang telah direbus. 
Taruh kulit jeruk rebus dalam panci, bubuhi air hingga terendam seluruhnya, tambahkan gula pasir. Rebus di atas api kecil sambil sesekali diaduk sampai menjadi sirop pekat. Angkat, biarkan kulit jeruk tetap terendam dalam sirop semalaman. 
Esoknya, masak lagi di atas api kecil hingga sirop gula hampir habis. Keluarkan kulit jeruk dari sirop, hamparkan di atas nyiru, jemur hingga setengah kering. Potong-potong kecil panjang, masukkan ke dalam wadah tertutup. Agar tahan lama (1 bulan), simpan dalam lemari es. 

Selain disantap sebagai kudapan, manisan kulit, jeruk bali bisa dicampurkan ke dalam adonan cake, terutama untuk menggantikan manisan sukade atau kulit jeruk parut. Manisan kulit jeruk yang dicampur manisan kering buah-buahan akan memperkaya cita rasa fruitcake. 

#Campuran salad buah 
Siapkan 200 gram pepaya, 200 gram apel, 200 gram nanas, 200 gram melon (semuanya dipotong dadu), dan jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas, dibuang isinya, dan dipotong-potong sesuai selera. Tambahkan stroberi dan kiwi untuk hiasan. 
Siapkan juga bahan dressing, campuran alpukat yang telah diblender halus dengan mayones. Tambahkan empat sendok madu, kocok dengan mikser sampai rata, beri air secukupnya, lalu aduk rata. Bahan buah segar diatur dalam mangkuk atau piring, kemudian disiram dengan dressing. 

Kandungan Jeruk Bali 

>Likopen

Kandungan likopen pada jeruk bali cukup tinggi, yaitu 350 mikrogram per 100 gram daging buah. Jika bersinergi dengan betakaroten (provitamin A) yang banyak terdapat pada jeruk bali, likopen bisa berperan sebagai antioksidan. 

>Pektin 

Jeruk bali mengandung pektin jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis jeruk lainnya setelah dijus. Satu porsi jus jeruk bali mengandung lebih dari 3,9 persen pektin. Setiap 15 gram pektin dapat menurunkan 10 persen tingkat kolesterol. Berarti jeruk bali dapat menurunkan risiko penyakit jantung. 

>Zat aktif pembersih darah 

Jeruk bali dipercaya mengandung zat aktif yang dapat membersihkan sel darah merah yang telah tua di dalam tubuh dan menormalkan hematokrit, yaitu persentase sel darah per volume darah. Tingkat hematokrit normal pada wanita adalah 37-47 persen, sedangkan laki-laki 40-54 persen. Rendahnya hematokrit akan menyebabkan anemia, tetapi jika sangat tinggi dapat memicu penyakit jantung karena darah jadi mengental. 

>Kalium 

Jeruk bali (gravefruit) merupakan sumber kalium, vitamin A (440 IU), bioflavonoid, dan likopen (350 ug/100g). Hasil penelitian, jeruk bali termasuk antikanker yang sekaligus menyehatkan prostat. 

>Vitamin C 

Seperti jeruk lain, jeruk bali adalah sumber vitamin C (350 mikrogram per 100 gram daging jeruk). Vitamin C sangat baik sebagai sumber antioksidan. 

Perokok dianjurkan untuk mengosumsi jeruk bali dua "siung" (helai dalam buah) setiap hari. Peningkatan kadar vitamin C di dalam darah mampu memperbaiki jaringan yang rusak, bahkan kanker, akibat tidak stabilnya molekul radikal bebas karena rokok dan polusi udara.

Lateral Thinking

Dahulu kala di suatu desa kecil di Indian, seorang petani yang
sangat miskin mempunyai hutang yang sangat besar kepada rentenir di
desa tersebut. Rentenir itu, udah tua, bangkotan, eee.... malah
tertarik pada putrinya pak tani yang cakep itu.

Kemudian si rentenir tersebut mengajukan penawaran, dia akan
melupakan hutang2 petani tersebut jika dia dapat menikahi putrinya.
Sang petani dan putrinya pun bingung dengan tawaran tersebut,
kayaknya mereka nggak setuju.

Melihat gelagat seperti itu Si rentenir mengajukan tawaran lagi
untuk membuat keputusan. Dia mengatakan, bahwa dia akan meletakkan
keping hitam dan keping putih di dalam kantong kosong, kemudian
sang putri petani diharuskan untuk mengambil satu keping dari kantong
tersebut.

1. Jika sang putri mendapatkan keping hitam, maka dia akan menjadi
istri rentenir tersebut dan hutang2 petani tersebut lunas.
2. Jikasang putri mendapatkan keping putih, maka rentenir tersebut
tidak akan meni kahi sang putri dan hutang2 petani tersebut lunas.
3. Jika sang putri menolak mengambil keping, sang petani akan
dipenjara.

Berada di halaman petani yang banyak terdapat kepingang2, si
rentenir mengambil 2 keping. Ketika mengambil, mata sang putri yang
tajam melihat, bahwa keping yang dimasukkan ke dalam kantong
keduanya berwarna hitam. Kemudian rentenir itu menyuruh sang putri
mengambil keping tersebut di dalam kantong.

Sekarang bayangkan anda ada di sana, apa
yang kamu lakukan
jika anda sebagai putri tersebut?
Jika anda harus menolong sang putri, apa yang harus kau lakukan
kepada sang putri?

Melihat hal seperti itu, ada 3 kemungkinan. ..
1. sang putri menola k untuk mengambil kepingan.
2. sang putri menunjukkan, bahwa yang di dalam kantong tersebut
keduanya adalah berwarna hitam serta mengungkap, bahwa rentenir
tersebut curang.
3. sang putri mengambil keping hitam dan mengorbankan dirinya untuk
menyelamatkan ayahnya dari hutang2 dan penjara.

Sekarang pertimbangkan cerita di atas. Pengalaman ini digunakan
untuk membedakan pemikiran logika dan lateral thinking. Dilema sang
putri tidak dapat diselesaikan dengan logika awam. Pikirkan cara
lain, jika sang putri tidak memilih pilihan yang diberikan
kepadanya. Apa yang akan anda tawarkan kepadanya ?

Jangan melihat jawaban di bawah ini, sebelum anda memikirkan cara
lain sebagai saran kepada sang putri, pikirkan 5 menit saja....


Baik, begini caranya. Sang putri memasukkan tangannya ke dalam
kantong dan mengambil satu keping tersebut. Tanpa melihat keping
tersebut, secara sengaja menjatuhkan (setengah melempar) keping
tersebut ke halaman dan bercampur dengan keping2 yang lain di
halaman. "Oh, betapa bodohnya aku" kata sang putri, "tapi, anda
nggak usah khawatir, jika tuan melihat sisa kepingan di dalam kantong,
maka tuan akan mengetahui keping mana yang saya ambil".
Dengan begitu, sisa yang ada di dalam kantong adalah keping
berwarna hitam, sehingga diasumsikan bahwa sang putri telah
mengambil keping yang berwarna putih.
Sejak rentenir berani menyatakan untuk tidak jujur, sang putri
mengubah dari keadaan yang kelihatannya mustahil menjadi keadaan
yang sangat menguntungkan.

Moral of the story: Semua permasalahan yang kompleks mempunyai
jalan keluar. Yang anda butuhkan hanya melebarkan pemikiran anda. Jika
logika anda tidak bisa bekerja, berusahalah dengan lateral thinking.
Lateral thinking sangat kreatif, mudah dikerjakan tiap hari.
"Rahasia untuk sukses, adalah mengetahui sesuatu yang tidak
diketahui orang lain".,..... .

Lebih Baik Mulai Menyalakan Lilin daripada terus menerus mengutuki  kegelapan yang menyelubungi Kita...


Sabtu, 09 Mei 2009

......


Tataplah dunia dengan mata hati
Maka akan terlihat dunia yang hakiki
Bukan dunia yang ingin kamu miliki
Tapi dunia yang bahkan ingin kamu hindari..

Berbuatlah sesuai hati nurani..
Maka banyak sahabat akan mendatangi
Banyak musuh yang akan berbaik hati

(Sumber: Berbagi Ilmu)

Dan Semua Ingin....

Dan semua ingin menang……
Dan semua ingin berhasil……
Dan semua ingin kaya……
Dan semua ingin disenangi….

Dan semua ingin jabatan….
Dan semua ingin kekuasaan…
Dan semua ingin sukses…
Dan…
Dan…
Dan…

Dan semua ingin SEMUA…
Semua untuk Saya…
Semua untuk keluarga Saya
Semua untuk ego Saya…

Betapa serakahnya Saya
Betapa rendahnya Saya
Betapa murkanya Saya
Betapa hinanya Saya

Dan….
Itulah Saya…
Ketika Saya bukan lagi MANUSIA..
Ataukah ANDA juga… Merasa???

Semua di dunia….buat apa..
Semua bukanlah kita punya..
Semua akan sirna….
Ketika saatnya tiba….

Secukupnya adalah bijaksana…
Semampunya adalah sederhana..
Bersabarlah ketika murka…
Dan…..SEMUA… hanyalah sarana
Untuk…. Setelah Dunia

(Sumber: Berbagi Ilmu)

Sabtu, 28 Maret 2009

NAFSU INGIN MENJADI PEMIMPIN


“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).
Perbedaan zaman Salafus-sholeh yang paling kentara dengan zaman sekarang, salah satunya dalam ambisi kepemimpinan. Dulu, khususnya zaman sahabat, mereka saling bertolak-tolakan untuk menjadi pemimpin.
Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena Umar adalah seorang yang kuat.
Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.
Dari dialog ini dapat kita pahami bahwa generasi awal Islam, yang terbaik itu, memandang jabatan seperti momok yang menakutkan. Mereka berusaha untuk menghindarinya selama masih mungkin. Tapi di zaman ini, keadaannya sudah berubah jauh.
Orang saling berlomba untuk menjadi pemimpin. Jabatan sudah menjadi tujuan hidup orang banyak. Semua tokoh yang sedang bertarung mengatakan, jika diminta oleh rakyat, saya siap maju. Inilah basa basi mereka. Entah rakyat mana yang meminta dia maju jadi pemimpin. Sebuah kedustaan yang dipakai untuk menutupi ambisi menjadi pemimpin.
Keberatan para Sahabat dulu untuk menjadi pemimpin, dikarenakan mereka mengetahui konsekuensi dan resiko menjadi pemimpin. Mereka mendengar hadits-hadits Nabi Saw tentang tanggung jawab pemimpin di dunia dan di akhirat. "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya...".
Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad Saw memprediksi hiruk pikuk di akhir zaman soal kekuasaan dan menjelaskan hakikat dari kekuasaan itu. Beliau bersabda seperti dilaporkan oleh Abu Hurairah :
“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).
Juga Rasulullah Saw memperingatkan mereka yang sedang berkuasa yang lari dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat dan tidak bekerja untuk kepentingan rakyatnya, dengan sabda beliau : “Siapa yang diberikan Allah kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu Daud).
Dan dalam riwayat at-Tirmizi disebutkan : “Tidak ada seorang pemimpin yang menutup pintunya dari orang-orang yang memerlukannya dan orang fakir miskin, melainkan Allah juga akan menutup pintu langit dari kebutuhannya dan kemiskinannya.”
Hadits-hadits yang ada lebih banyak menggambarkan pahitnya menjadi pemimpin ketimbang manisnya. Sedang mereka adalah generasi yang lebih mengutamakan kesenangan ukhrowi daripada kenikmatan duniawi. Itulah yang dapat ditangkap dari keberatan mereka.
Sementara orang yang hidup di zaman ini berfikir terbalik. Yang mereka kejar adalah kesenangan duniawi yang didapat melalui jabatan dan kekuasaan. Mereka lupa dengan pertanggung jawaban di hari Kiamat itu. Mereka tidak segan-segan bermanuver dan merekayasa untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan itu.
Kadangkala cara yang dipakai sudah hampir sama dengan cara kaum kuffar atau kaum sekuler, menghancurkan nilai-nilai akhlak Islam yang sangat fundamental; mencari dan mengumpulkan kelemahan lawan politik dan pada waktunya aib-aib itu dibeberkan untuk mengganjal jalan kompetitornya.
Ada pula yang mengumpulkan dana dengan cara-cara yang tak pantas dan tak bermoral. Mendukung calon kepala daerah dalam pilkada dari partai mana saja, asal dengan imbalan materi dengan menyerahkan uang yang besar. Terserah orang itu menang atau kalah nanti, tak begitu penting, yang penting uangnya sudah didapat.
Para pemburu kekuasaan itu beralasan, jika kepemimpinan itu tidak direbut, maka ia akan dipegang oleh orang-orang Fasik dan tangan tak Amanah, yang akan menyebarkan kemungkaran dan maksiat. Tapi jika ia dipegang oleh orang soleh dan beriman, akan dapat mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat luas. Alasan ini memang indah kedengaran.
Namun kenyataannya, semua yang berebut jabatan mengklaim bahwa ia lebih baik dari yang sedang memimpin. Dan tidak ada yang dapat memberi jaminan bahwa jika ia memimpin, keadaan akan menjadi lebih baik.
Bahkan rata-rata orang pandai berteriak sebelum menjadi pemimpin, tetapi setelah masuk ke dalam sistem, mereka tak bisa berbuat banyak. Akhirnya mengikuti gaya orang sekuler. Yang mencoba bertahan dengan idealisme, mendapat serangan dan kecaman dari berbagai pihak, lalu akhirnya menyerah kepada keadaan.
Berapa banyak mantan aktifis mahasiswa yang sebelumnya kritis dan berdemo menentang rezim masa lalu, tetapi sesudah masuk ke dalam sistem, tidak bisa merubah apa-apa, bahkan menggunakan cara-cara yang dipakai oleh rezim sebelumnya, memanfaatkan jabatan untuk menimbun uang dan kekayaan.
Kemudian merekapun menyiapkan alasan-alasan pembelaan; antara lain, merubah sesuatu tak bisa sekejap mata, tetapi harus bertahap, menilai sesuatu tak boleh hitam-putih, apa yang ada sekarang sudah lebih baik dari masa sebelumnya.
Keadaan seperti ini semakin memperkuat keyakinan sebagian orang, bahwa memperbaiki sistem tidak harus masuk terjun ke dalam sistem itu. Bahkan tak mungkin melakukan perubahan selama kita ada di dalam. Sebuah logika terbalik dari slogan yang digembar gemborkan pihak lain, yang kalau mau merubah sistem, harus terjun ke dalam sistem itu. Ternyata kebanyakan yang pernah terjun ke dalam sistem, tidak mampu merubah kerusakan yang ada. Bukan sekedar tak mampu membersihkan, justru ikut terkena kotoran.
Memang ada sebagian yang masuk ke dalam sistem dengan cara yang sah, lalu berjuang di dalamnya dengan penuh resiko, mencoba melakukan perubahan dan bertahan dengan prinsip-prinsip yang dipegangnya. Mereka ini biasanya kalau tak tersingkir, dimusuhi atau makan hati.
Gerakan Islam sebenarnya lebih besar dari sekadar Partai Politik yang dibatasi oleh aturan-aturan formal, aturan main, dan bahkan ideologi kebangsaan. Gerakan Islam berjuang untuk jangka waktu yang tak terbatas, hingga Islam itu tegak berdiri dengan kokoh. Lingkup kerjanya juga tidak hanya menyangkut soal-soal politik.
Ketika gerakan Islam menjadi partai politik, sebenarnya ia sedang dipasung dan dihadapkan pada agenda kacangan yang didiktekan kepadanya yang bukan menjadi agenda utamanya. Bahkan kesibukannya mengurusi soal-soal politik hanyalah pembelokan dari target utama dan juga pemborosan energi yang tak setimpal dengan hasil yang dicapainya. Ibarat membayar dengan harga emas untuk membeli besi.
Betapa sayangnya seorang yang sudah tiga puluh tahun malang melintang dalam gerakan Islam, ujung-ujungnya hanya menjadi tukang lobi kesana-kemari untuk memperjuangkan kursi alias kekuasaan. Sungguh menyedihkan. Yang diperjuangkan oleh gerakan Islam adalah sebuah agenda besar yang mendunia (Ustaziyyatul ‘Alam), bukan agenda lokal dan sektor sempit dan terbatas.
Lalu di sini mungkin pertanyaan akan muncul, apakah urusan lokal yang berujung pada kemaslahtan ummat Islam itu diabaikan? Jawabannya jelas tidak. Akan tetapi biarlah masalah-masalah lokal dan sektoral itu diurusi oleh anak-anak ummat yang mempunyai kualitas lokal.
Adapun gerakan Islam yang sudah mendunia haruslah bekerja sesuai dengan kapasitasnya. Tak pantas pemuda-pemuda gerakan diminta mengurus pilkada, pemilu, menempel-nempel poster, apalagi bertarung dengan orang-orang yang tak sekapasitas dengannya.
Gerakan Islam sekali lagi harusnya mengurusi hal-hal yang lebih besar, lebih strategis, yakni pembinaan ummat, membangun generasi intelek dan beriman, mengarahkan pemikiran ummat kepada cara berpikir yang Islami setelah mengalami degradasi. Anak-anak gerakan yang tak naik kelas bolehlah dipersilahkan terjun ke dunia politik praktis. Karena sampai di situlah mungkin batas kemampuannya.
Ada hikmahnya kenapa Allah swt tidak mengizinkan gerakan Islam di negeri induknya berkecimpung dalam politik praktis secara besar-besaran. Karena hal itu akan membuat mereka lalai dari perjuangan utama. Target utamanya bukan untuk mendapat kursi Perdana Menteri, atau bahkan Presiden sekalipun, tetapi untuk menjadi qiyadah fikriyah bagi pergerakan Islam sedunia.
Andaikan peluang lokal itu terbuka, niscaya mereka akan sibuk dengan masalah-masalah parsial di lapangan sementara tugas mereka jauh lebih kompleks dari membenahi sebuah negara yang masyarakatnya sudah rusak secara ideologis, moral dan perasaan.
Tugas Gerakan Islam lebih besar dari membersihkan korupsi, ketimpangan ekonomi, ketidak merataan pembangunan. Tugas mereka adalah mengembalikan penyembahan kepada Allah setelah mengalami degradasi dengan menuhankan manusia dan Tuhan-tuhan lainnya. (Ikhrojun Naas min Ibadatil Ibad ilaa Ibadatil Robbil Ibaad).

Sumber : Dr. Dr. Daud Rasyid (Eramuslim)

Minggu, 15 Maret 2009

Bendera La Ilaha ill-Allah Bukan Panji Nasionalisme


Dalam bab kedua buku Petunjuk Jalan yang berjudul Wujud Metode Al-Qur’an, Sayyid Quthb menganalisa mengapa Allah mengharuskan Nabi Muhammad mengibarkan bendera La ilaha ill-Allah bukan bendera lainnya. Padahal dengan mengibarkan panji Tauhid bangsa Arab bukan saja enggan menerima seruan tersebut, tetapi mereka bahkan menentang dengan keras sampai ke tingkat mengusir dan memerangi Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat. Tidakkah ada pilihan strategi lain yang lebih memperkecil resiko dan mengandung maslahat lebih besar? Misalnya, mengapa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak diarahkan Allah untuk mengibarkan panji Nasionalisme Arab yang lebih mungkin menghasilkan penerimaan bangsa-bangsa Arab di semenanjung Arab masa itu? Perhatikanlahlah tulisan Sayyid Quthb berikut ini:

Sehingga muncullah pertanyaan: ”Mengapa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak diperintahkan untuk menempuh jalan lain dalam awal da’wahnya ketika di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah? Mengapa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak dibenarkan untuk mengibarkan panji Nasionalisme Arab, misalnya, sehingga bangsa Arab pasti akan segera menyambut seruan beliau dengan sukarela. Sebab seruan Nasionalisme Arab tidak akan menimbulkan penentangan terhadap penyerunya, bahkan boleh jadi mereka malah akan segera menyambut seruan tersebut mengingat bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berasal dari suku terpandang di semenanjung Arab.
Kenapakah (La ilaha ill-Allah) ini yang merupakan titik-mula dalam seruan ini? Kenapakah hikmah Tuhan menghendaki bahwa seruan ini dimulai dengan kesusah-payahan ini?

Selanjutnya penulis menganalisa keadaan di semenanjung Arab pada masa awal Nabi shollallahu ’alaih wa sallam diutus. Ketika itu bangsa Arab sedang terpecah. Di sebelah utara mereka dijajah oleh kekuatan adidaya barat Romawi. Sedangkan di selatan mereka dijajah oleh kekuatan adidaya timur Persia. Mengingat posisi Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang berasal dari salah satu suku Arab terpandang dan secara pribadi sebagai orang yang terkenal berwibawa dan punya track-record pernah dengan bijaksana mendamaikan pertikaian, tentulah bila sejak hari pertama da’wahnya beliau mengibarkan panji Nasionalisme Arab niscaya bangsa Arab akan segera menyambut seruannya dan menjadi dapat bersatu kembali. Demikian Sayyid Quthb menulis.

Rasulullah s.a.w. diutus dengan agama ini pada waktu tanah Arab yang tersubur dan terkaya tidak berada di tangan bangsa Arab, tetapi di tangan bangsa-bangsa lain.
Seluruh negeri Syam di utara tunduk kepada orang-orang Romawi, diperintah oleh pangeran-pangeran Arab untuk orang-orang Romawi. Seluruh negeri Yaman di selatan tunduk kepada Persia, diperintah oleh pangeran-pangeran Arab untuk orang-orang Persi. Yang berada di tangan bangsa Arab hanyalah Hijaz, Tihamah dan Najd, termasuk padang-padang pasir yang tandus, yang di sana-sini bertebaran wadi-wadi yang subur.
Barangkali dikatakan orang: Muhammad s.a.w. yang benar dan dipercayai, yang dijadikan hakim oleh pemuka-pemuka Quraisy sebelumnya dalam peristiwa perletakan Hajar Aswad, dan mereka rela dengan putusan yang telah dijatuhkannya, lima belas tahun sebelum datangnya risalah, Muhammad yang berada di puncak Bani Hasyim, yang tertinggi di kalangan Quraisy dipandang dari segi bangsanya, orang yang seperti ini tentu sanggup untuk mengobarkan Nasionalisme Arab dengan tujuan untuk mempersatukan suku-suku bangsa yang sedang dirobek-robek oleh permusuhan dan dikoyak-koyak oleh pertentangan, dan menjuruskannya kepada suatu arah nasional dengan tujuan untuk mengembalikan tanan-tanah yang telah dirampas dari imperium-imperium yang menjajah, Romawi di utara dan Persi di selatan, dan mengibarkan bendera Arab dan Arabisme, dan mendirikan suatu persatuan nasional di seluruh penjuru Semenanjung Arabia itu.

Tentulah jika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berhasil mempersatukan bangsa Arab yang semula berpecah, maka beliau akan diberi hak memimpin dan berkuasa. Lalu beliau selanjutnya akan berpeluang memanfaatkan posisi tersebut untuk menanamkan aqidah Tauhid sesuai perintah Allah. Bukankah ini strategi yang lebih bijaksana? Daripada harus berkonfrontasi sejak hari pertama dengan bangsa sendiri, bukankah mengibarkan panji Nasionalisme Arab menjadi langkah yang bisa lebih mulus dan penuh maslahat? Ini menjadi catatan penulis kitab Petunjuk Jalan.

Barangkali ada yang mengatakan : Adalah sepantasnya bagi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, setelah bangsa Arab memperkenankan seruannya dalam bentuk yang seperti ini, dan setelah menyerahkan pimpinan dan kekuasaan kepadanya, setelah ia mengumpulkan kekuasaan di tangannya dan kemuliaan di atas kepalanya, baru setelah itu ia mempergunakan semuanya ini untuk menanamkan aqidah tauhid yang dengannya ia telah diutus, menghambakan manusia kepada kekuasaan Tuhan mereka, setelah ia menghambakan mereka kepada kekuasaan manusiawi dirinya sendiri.
Tetapi Tuhan Yang Mahasuci, yaitu Yang Mahatahu dan Mahabijaksana, tidak mengarahkan RasulNya s.a.w. ke arah yang seperti ini, tetapi mengarahkannya kepada agar ia menjelaskan La ilaha illa-llah, dan agar ia bersama sejumlah kecil pengikut yang telah memperkenankan seruannya menanggung segala penderitaan ini.

Apakah Allah sengaja berkehendak memberi kesulitan kepada NabiNya dan para pengikutnya dari kalangan mu’minin? Mengapa sejak hari pertama mereka harus menempuh jalan yang menimbulkan respons penentangan begitu keras dari keluarga dan bangsa senidiri? Bukan, saudaraku, bukan itu maksud Allah. Sesungguhnya Allah bermaksud agar jangan sampai da’wah berkembang menjadi suatu seruan yang menyingkirkan tiran dari kalangan bangsa-bangsa tertentu untuk selanjutnya menghadirkan tiran baru dari kalangan bangsa yang semula berda’wah atas nama agama Allah itu sendiri. Padahal seruan Tauhid La ilaha ill-Allah justru mengandung makna pokok yaitu mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba (sesama manusia) untuk menghamba hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

Kenapa? Tuhan Yang Mahasuci tidak mau RasulNya dan orang-orang yang beriman kepadanya menderita. Tetapi Ia Yang Mahasuci mengetahui bahwa ini bukanlah jalannva. Jalannya bukanlah dengan melepaskan dunia dari tangan tiran Romawi atau tiran Persi ke tangan seorang tiran Arab. Tiran semuanya tiran. Bumi ini kepunyaan Allah, dan harus seluruhnya kepunyaan Allah. Dunia ini baru semuanya menjadi kepunyaan Allah kalau telah berkibar di sana bendera la ilaha illa-llah, yaitu dengan pengertian la la ilaha illa-llah yang dikenal oleh seorang Arab yang mengetahui pengertian bahasanya : yang berkuasa hanyalah Allah, hukum hanyalah yang datang dari Allah, seseorang tidak mempunyai kekuasaan terhadap orang yang lain karena kekuasaan itu seluruhnya kepunyaan Allah.

Bila bendera La ilaha ill-Allah yang dikibarkan sejak awal, maka berarti Nabi dan para sahabat telah menyingkirkan konsep kewarganegaraan primordial-primitif kepada suatu bentuk kewarganegaraan aqidah yang sahih bersumber dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sebaliknya bila panji Nasionalisme Arab yang dikibarkan sejak awal, maka tentunya akan menimbulkan kebanggaan fanatisme sempit kesukuan dan kebangsaan Arab yang mendiskriminasikan bangsa-bangsa selain Arab. Demikian tulis Sayyid Quthb:

”Kewarganegaraan” yang dikehendaki oleh Islam untuk manusia adalah kewarganegaraan aqidah, di mana sama seorang Arab dengan seorang Romawi, seorang Persi, setiap jenis dan warna di bawah panji-panji Allah. Dan inilah jalannya.

Maka saudaraku, betapapun terlihat penuh kesukaran dan penderitaan, namun jalan mengibarkan bendera La ilaha ill-Allah merupakan jalan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang benar-benar menghasilkan manusia-manusia pilihan sejak hari pertama. Merekalah para kader da’wah sejati yang tidak mudah tergiur oleh berbagai kenikmatan dunia yang menipu, dan tidak mundur walau dihadapkan kepada berbagai ancaman dan siksaan.

Tidak ada sesuatupun dari sistim yang penuh berkat ini dapat direalisir pada tingkat yang tinggi seperti ini, selain dengan kalau da'wahnya dimulai dari permulaan ini, kalau tidak da'wah mengibarkan bendera ini saja, yaitu bendera La ilaha ill-Allah, yaitu satu-satunya bendera yang dikibarkan, dan jiwa da'wah tidak menempuh jalan yang sukar dan sulit pada lahirnya, penuh berkah dan mudah pada hakekatnya.

Marilah kita waspadai berbagai logika bersiasat dalam menempuh jalan da’wah yang seolah menawarkan lebih banyak maslahat sedikit mudharat namun sesungguhnya menyebabkan ummat tidak menempuh jalan sunnah Nabi dan para sahabatnya. Jalan yang sepertinya akan segera menghasilkan solidaritas dan persatuan nasional, namun tidak bakal pernah mewujudkan para kader da’wah sejati dan ummat yang hanya menghamba kepada Allah. Begitu pula, marilah kita waspadai logika keliru yang menyuruh para aktivis da'wah untuk berfikir meraih kekuasaan dan kepemimpinan terlebih dahulu selanjutnya barulah berda'wah terang-terangan kepada aqidah La ilaha ill-Allah. Suatu logika yang jelas-jelas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tolak sejak hari pertama.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia pusat perhatian kami dan batas pengetahuan kami.-
(Sumber: Ihsan Tanjung, Eramuslim.com)

Senin, 09 Maret 2009

JAMAAH SEDIKIT


Assalamu'alaikum wr. wb.
Selama ini, dari sekian banyak jamaah yang tinggal di sekitar masjid hanya sedikit yang mengikuti aktivitas di masjid, baik kegiatan rutin seperti pengajian maupun yang insidental seperti peringatan hari-hari besar Islam. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Jawaban
Ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa jamaah kita tidak mau mengikuti kegiatan di masjid. Saya akan menyebutkan faktor-faktor tersebut lalu anda menilai sendiri apa yang menjadi sebab yang dialami di masjid anda

Pertama, kurangnya keteladanan dari sebagian pengurus masjid, ini berarti sebagian pengurus masjid sendiri tidak ikut serta secara aktif dalam kegiatan masjid. Kalau pengurus masjid yang jumlahnya sekitar 20 orang itu ikut dalam kegiatan masjid, tentu pengajian sudah bisa berjalan dengan baik, apalagi kalau pengurus itu mengajak isterinya maka sudah 40 orang, kalau kemudian pngurus itu masing-masing membawa satu anaknya yang dewasa maka sudah 60 orang. Dengan demikian pengajian rutin akan selalu dihadiri banyak orang ditambah dengan jamaah yang berasal dari luar.

Kedua, belum adanya arahan program yang jelas sehingga kegiatan yang diselenggarakan terkesan asal ada. Pengajian misalnya tidak jelas apa saja materi pembahasan yang akan dilakukan. Apakah materi tersebut sesuai dengan kebutuhan jamaah atau tidak, akibatnya jamaah enggan untuk hadir karena materinya tidak menarik, karena itu kegiatan seperti pengajian rutin semestinya dikembangkan secara klasikal sehingga materinya disesuaikan dengan kebutuhan jamaah, sedangkan kegiatan ceramah umum sifatnya insidental. Yang sekarang banyak terjadi justeru pengajian kita di masjid selalu dalam bentuk pengajian umum.

Ketiga, kegiatan masjid selama ini berlangsung tanpa meminta komentar atau pendapat dari jamaah, sehingga kegiatan itu atas keinginan sepihak dari pengurus, atau bahkan sebagian dari pengurus. Idealnya kegiatan masjid merupakan kegiatan yang dikehandaki secara bersama-sama melalui musyawarah sehingga kegiatan itu merupakan sesuatu yang memang dibutuhkan dan disenangi oleh pengurus dan jamaah masjid.

Keempat, motivasi jamaah yang rendah untuk meningkatkan kualitas iman dan menambah pengetahuan, karenanya menjadi penting untuk selalu mengingatkan jamaah akan pentingnya aktivitas masjid untuk diikuti. Penting juga bagi pengurus masjid melakukan pendekatan pribadi kepada jamaah agar mau ikut serta dalam kegiatan masjid.

Demikian jawaban singkat, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amien.
(Sumber: Ust. Ahmad Yani, Eramuslim)

PILIHAN DAN YANG TERPILIH


Hidup ini adalah pilihan. Hidup ini amat sangat singkat sehingga mau tidak mau kita harus membuat pilihan. Hanya ada dua sikap dalam membuat pilihan, yang pertama adalah sikap mantap dan yang lainnya adalah sikap ragu-ragu. Mantap berarti solidnya isi hati dengan amal perbuatan, bersatunya nurani dan amal. Ragu-ragu berarti mengambang, tidak bertemunya kemauan hati dengan amal. Bila mantap mendatangkan kekokohan diri layaknya karang yang tetap tegar diterpa ombak keras, maka ragu-ragu mendatangkan keterombang-ambingan layaknya kerang-kerang kecil yang hanya digerakkan arus, kadang merapat ke daratan, kadang hanyut ke tengah lautan.
Mengambil pilihan berarti mengambil yang sedikit dari yang banyak tersedia. Jika ia mengambil yang sudah banyak tersedia, maka tidaklah ia dikatakan memilih, tapi ia hanya mengikut. Maka sebenarnya mereka yang membuat pilihan adalah mereka yang terpilih, yaitu yang sedikit di antara yang banyak. Sedangkan mereka yang hanya mengambil apa yang banyak tersedia adalah mereka yang menjadi pengikut, meramaikan yang banyak.
Karena hidup itu adalah pilihan, ALLAH sudah menakar kadar mereka yang berjumlah sedikit untuk mempengaruhi mereka yang ramai. Hanya gula sesendok untuk memaniskan minuman segelas, hanya satu semburan parfum untuk mengharumkan ruangan sekamar. Yang membuat sedikit dapat mempengaruhi yang banyak adalah kadar atau konsentrasi ke-istiqamah-an mereka. Mereka yang bergabung dengan keramaian tetap akan larut dalam keramaian walaupun begitu inginnya mereka bergabung dengan yang berjumlah sedikit. Kuatnya kemauan mereka akan diuji dan dengan sendirinya mereka terseleksi. Mereka yang semula bergabung dalam jumlah yang sedikit lambat laun pun ikut dalam keramaian, sehingga tidak lagi menjadi sekelompok yang mempengaruhi, melainkan telah menjadi kelompok yang terpengaruh. Kuatnya kemauan mereka juga akan diuji dan dengan sendirinya mereka terseleksi.
Persoalan ini hanya masalah langkah apa yang dipilih dan dijalani setelah pengetahuan itu sampai kepada seseorang. Ketika seseorang itu telah sampai pengetahuan kepadanya bahwa jalan yang patut ditempuh adalah jalan yang tidak ramai orang menapakinya, maka selanjutnya adalah sesuaikah apa yang ia ketahui dengan kemana ia melangkah.
Ketika ramai orang membangun istana dengan kekayaannya maka mereka yang terpilih adalah mereka yang tidak meninggikan atap selain dari cukupnya kolom udara di atas kepalanya dan tidak meluaskan ruangan selain dari hitungan berhingga jangkauan tangan dan kakinya, dan mengalihkan kekayaannya untuk infaq di jalan ALLAH. Walaupun untuk itu mereka tidak tercatat dalam deretan orang terkaya karena mengumpulkan harta. Wajar saja, makhluk memahami kaya sebagai banyaknya perbendaharaan yang berhasil ditahan, sedangkan Sang Pencipta Makhluk, Yang Maha Kaya, memberi arti kaya sebagai banyaknya perbendaharaan yang berhasil lepas dari tahanan nafsu sang makhluk dan sebagai titipan yang dikembalikan kepada Sang Pemilik dengan dibelanjakan sesuai pesan-Nya.
Ketika ramai orang berlomba-lomba menjadi idola untuk menyaingi Dia Yang Tidak Punya Sekutu, maka mereka yang terpilih adalah mereka yang menyadari bahwa tidak ada bedanya idola dan taghut. Mereka menyadari bahwa pengikut idola adalah pengikut taghut, dan menjadi idola adalah menjadi taghut. Al Quran sendiri menghendaki Umat Islam menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan, bukan idola. Sungguh berbeda makna keduanya. Bila yang pertama menuntut integritas, maka yang kedua hanya ikut dalam batas yang ia suka.
Ketika ramai orang mengejar selembar ijazah untuk dikekalkan sebagai gelaran pelengkap namanya, maka mereka yang terpilih adalah mereka yang merasa tidak pantas punya gelar lain selain dari “Abdullah” dan senantiasa cemas apakah selembar ijazah mereka akan menjadi bagian lembaran-lembaran kitab yang diberikan dari sebelah kanan, atau dari sebelah kiri di hari kiamat nanti, yang diukur dari seberapa banyak lembaran manfaat yang diterbitkan dari tiap lembar ilmu yang dipelajarinya.
Ketika ramai orang bangga disebut ahli politik karena lihainya mereka memainkan kebingungan masyarakat, maka mereka yang terpilih adalah mereka yang memilih tetap santun dan menerjemahkan nurani mereka dalam tiap aksi mereka ketika bergerak dalam arena yang mendatangkan keberuntungan besar atas kebaikan kecil yang ditanam dan mendatangkan kecelakaan besar atas kelalaian kecil yang dibiarkan.
Ketika ramai orang mendaki untuk ketinggian diri dan kejayaan pribadi, maka mereka yang terpilih adalah mereka yang bersabar mengulurkan tangan dan menggandeng saudara-saudaranya untuk bersama-sama mendaki puncak sehingga sama-sama dari ketinggian melihat indahnya pemandangan perjuangan. Tingginya mereka adalah rendahnya mereka di hadapan Yang Maha Tinggi, dan rendahnya mereka adalah tingginya mereka di hadapan keramaian yang melarutkan diri dalam ketidakpedulian.
Ketika ramai orang menutup catatan idealisme yang pernah ditulisnya untuk kemudian membuka catatan pragmatisme yang ditulis orang lain, tetapi seolah-olah ia kemudian ikut menulisnya, maka mereka yang terpilih adalah mereka yang tidak pernah merasa rugi memperjuangkan idealisme walau mati sebelum idealisme itu tumbuh, mengakar, dan berbuah di masyarakatnya. Bagi mereka mati itu kepastian, tinggal memilih cara mati seperti apa.
Ketika ramai orang mengabarkan kesuksesan dirinya dan merasa senang jika kata sukses itu dipantulkan kembali pada dirinya dari khalayak ramai, maka mereka yang terpilih adalah mereka yang memahami sukses sebagaimana Al Quran mendefinisikan sukses. Bagi mereka, tidak pantas seorang muslim mengabarkan dirinya sukses sebelum ia menginjakkan kakinya di surga!
Profil Penulis :
Ibnu Kahfi Bachtiar, mahasiswa S2 bidang energi terbarukan pada Universitas Oldenburg (Jerman) saat ini sedang menyelesaikan tesis di Forschungszentrum Juelich. (Eramuslim.com)

Sabtu, 07 Maret 2009

PEDULI TETANGGA, WASILAH MERAIH AL JANNAH

Fenomena kehidupan bertetangga selalu berubah seiring dengan bergulirnya zaman. Dewasa ini, suasana sosial yang sesuai kaidah syariat Islam semakin susah didapatkan, apalagi hidup di lingkungan kota. Pada umumnya manusia cenderung dan asyik dengan kepentingannya masing-masing.Di pagi hari, masing-masing pihak persiapan untuk menuju tempat aktivitasnya, kemudian pulang di waktu sore harinya. Begitulah seterusnya, tak terasa masing-masing pihak saling menutup diri, saling tidak mengenal, yang pada akhirnya melahirkan sikap individualisme “acuh” terhadap kondisi tetangganya. Tak jarang, ada tetangga yang sakit parah untuk segera dirawat di rumah sakit, tapi karena kurang kepedulian dari tetangga, akhirnya orang tersebut meninggal (disamping Qadha’ dan Qadar Allah). Juga, kita melihat banyak anak kecil yang terlantar, mereka dengan terpaksa untuk memenuhi kebutuhannya harus minta-minta “ngencleng” dipinggir jalan, lalu dikemanakan nasib pendidikan mereka? Kemana mereka harus mengadu? Sikap indiuvidualisme “acuh” juga mengakibatkan masing-masing pihak merasa tidak dilindungi antara satu dengan lainnya. Bila ada sebuah keluarga kecurian atau kerampokan atau tindak kriminal lainnya, terkadang pihak tetangganya merasa tidak mengetahuinya. Kalaupun tahu, terkandang pula bingung apa yang mesti dia bantu atau ia perbuat.Di sisi lain, tidak jarang terjadi interaksi aktif antara satu dengan lainnya. Namun sayang terkadang (baca: banyak) interaksi itu bersifat negatif yang merugikan pihak lain, baik dari tutur kata yang buruk, tingkah laku yang jelek atau sesuatu lainnya yang dapat mengganggu pihak lain. Bahkan, tega berbuat zhalim (menganiaya) dan memeras pihak lain. Fenomena ini bukanlah sekedar wacana belaka, bahkan anda bisa melihat dan merasakannya sendiri.Masyarakat Indonesia mayoritas penduduknya adalah beragama Islam. Sehingga semua kejadian ini terkait dengan keberadaan umat Islam. Oleh karena itu baik buruknya pergaulan masyarakat Indonesia tergantung dengan baik buruknya akhlak umat Islam. Apakah memang Islam tidak peduli dengan kondisi umatnya? Ataukah sebaliknya, umat Islam sendiri yang tidak peduli dengan adab-adab bertetangga yang dituntunkan oleh Islam (Al Qur’an dan As Sunnah)?!!!

Islam Rahmat Bagi Semesta Alam

Islam adalah agama yang Allah sempurnakan, yang mencakup dan menjawab seluruh permasalahan umat manusia dengan tepat dan sempurna, termasuk di dalamnya adab-adab dalam bertetangga. Hal ini telah diabadikan di dalam Al Qur’an, sebagaimana firman-Nya: “Pada hari ini Aku sempurnakan Islam sebagai agama bagi kalian, dan Aku lengkapkan pula nikmat-Ku atas kalian, serta Aku ridha Islam menjadi agama kailan.” (Al Ma’idah: 3)Para pembaca, demikianlah ikrar penegasan dari sang Al Khaliq (Pencipta) Allah tentang kesempurnaan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya . Sehingga ajaran-ajaran Islam, bila dipelajari oleh umatnya kemudian dipraktekkan niscaya benar-benar dapat mendatangkan kedamaian dan ketentraman, baik sesama umat Islam atau umat lainnya serta seluruh alam semesta ini. Allah berfirman (artinya): “Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiyaa’: 107)Demikian pula, Nabi Muhammad diutus ke muka bumi dalam rangka untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah bersabda:وَلَقَدْ بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ“Dan sungguh aku diutus (sebagai seorang rasul -pent) dalam rangka untuk menyempurnakan akhlak manusia.”
Wasiat Islam

Para pembaca, ketahuilah permasalahan “tetangga” bukanlah remeh, bahkan sangat diperhitungkan di dalam agama Islam. Terlebih lagi, Islam mewasiatkan untuk selalu menjaga dan memuliakan tetangga. Simaklah firman Allah :“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga dekat maupun tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang mengadakan perjalanan) dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An Nisaa’: 36)Di dalam ayat yang mulia ini, terdapat perintah dari Allah untuk berbuat baik kepada tetangga dan Allah membenci sifat sombong dan tidak mau peduli dengan keadaan tetangganya.Demikian pula, Nabi Muhammad senantiasa mendapatkan wasiat dari malaikat Jibril u tentang perihal tetangga. Sebagaimana sabda beliau :مَازَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ“Senantiasa Jibril memberikan wasiat kapadaku perihal tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga juga berhak mendapatkan harta waris.” (H.R. Al Bukhari no. 6014-6015 dan Muslim no. 2624-2615, dari sahabat Aisyah dan Ibnu Umar )
Keutamaan Memuliakan Tetangga Dan Ancaman Mengganggu Tetangga

Para pembaca, telah kita ketahui bersama bahwa peduli dengan tetangga merupakan perkara yang urgen di dalam Islam. Sehingga Islam juga memberikan kedudukan mulia bagi orang yang memuliakan tetangganya dan sebaliknya, Islam memberikan ancaman keras terhadap siapa saja yang tidak mau peduli dengannya.Berikut ini akan disebutkan beberapa keutamaan memuliakan tetangga beserta ancaman yang melalaikannya. Diantaranya sebagai berikut:

a. Wasilah meraih iman yang sempurna.مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka janganlah ia menggangu tetangganya.” (H.R. Al Bukhari no. 6136 dan Muslim no. 48, dari sahabat Abu Hurairah )Bisa disimpulkan dari hadits di atas, bahwa perbuatan buruk terhadap tetangga dapat mengurangi nilai iman dia kepada Allah dan hari kiamat. Bila ia menyakini perbuatan mengganggu tetangga adalah halal (boleh), maka bisa menyebabkan batalnya nilai iman dia secara total (kufur).

b. Menjadi sebaik-baik tetangga di sisi Allahخَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبهِ، وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ“Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya.” (H.R. At Tirmidzi, dari sahabat Ibu Umar, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Al Adabul Mufrad no. 115 ) Dapat disimpulkan pula dari hadits diatas, barang siapa yang tidak memuliakan (peduli) tetangganya maka ia akan menjadi calon tetangga yang paling buruk di sisi Allah .

c. Wasilah untuk meraih Al Jannah.Rasulullah bersabda:لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَيَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ “Tidak akan masuk Al Jannah, barang siapa yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. (H.R. Muslim), juga dalam riwayat Al Bukhari, Rasulullah bersumpah: “Tidaklah beriman kepada Allah” (sebanyak tiga kali).” Salah seorang sahabatnya bertanya: “Siapa itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: “Barangsiapa yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”Sungguh ada seorang wanita di jaman Rasulullah yang rajin shalat malam dan shaum di siang harinya, namun tetangganya tidak merasa aman dari kejelekan lisannya. Kabar itupun terdengar oleh Rasulullah , maka beliau bersabda: “Tidak ada kebaikan bagi dirinya. Dan ia kelak masuk dalam An Naar (neraka).” (Al Adabul Mufrad no. 119, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)
Apa yang harus kita perbuat?

Islam sangat peduli dengan keberadaan tetangga. Sehingga seharusnya seorang muslim harus peka dan tanggap dengan kondisi tetangganya. Bila tetangganya membutuhkan atau memerlukan sesuatu, seharusnya ia tanggap untuk bermurah tangan kepadanya sesuai kemampuannya tanpa diminta. Pintunya selalu terbuka bagi siapa saja yang perlu dan butuh darinya.Konsekuensi dari berbuat baik kepada tetangga adalah tidak berbuat atau bertindak semena-mena yang menyebabkan tetangga itu merasa terganggu atau teraniya. Sehingga membutuhkan kejelian dan kehati-hatian dari masing-masing pihak untuk tidak berkata dan berbuat kecuali setelah dipertimbangkan dengan matang antara maslahat dan mudharatnya.Sahabat Ibnu umar berkata: “Telah datang kepada kita suatu zaman, dimana dahulu tidak ada seorang pun yang mengutamakan dinar dan dirhamnya (jenis mata uang -pen) dibandingkan saudaranya muslim, namun sekarang dinar dan dirham lebih kita cintai dibanding saudaranya yang muslim. Padahal aku mendengar Rasulullah bersabda: “Betapa banyak kelak pada hari kiamat seseorang yang nasibnya bergantung dengan tetangganya. Ia berkata kepada Rabb-nya: “Yaa Rabb-ku!, orang ini telah menutup pintu bagiku, sehingga mencegahnya untuk berbuat baik.” (Al Adabul Mufrad no. 111, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)Ada beberapa contoh hubungan bertetangga yang telah dipraktekkan di masa Rasulullah , dan para sahabatnya, sebagaimana hadits-hadits berikut ini:

1. Aisyah bertanya kepada Rasulullah : “Yaa Rasulullah! Sesungguhnya aku memilki dua tetangga. Mana yang paling berhak untuk aku berikan hadiah?” Rasulullah menjawab: “Pintu yang paling dekat denganmu.” (Al Adabul Mufrad no. 107, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)

2. Sahabat Abu Dzar meriwayatkan dari Rasulullah , beliau bersabda:يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتُعَاهِدَ جِيْرَانَكَ“Wahai Abu Dzar, bila engkau memasak maka perbanyaklah kuahnya, kemudian engkau bagikan kepada tetanggamu.” (H.R. Muslim)Rasulullah juga bersabda:لَيْسَ المُؤْمِنُ الَّذِي يُشْبِعُ وَجَائِرُهُ جَائِعٌ“Tidaklah beriman seseorang, bila ia dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (Al Adabul Mufrad no. 112, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)

3. Sahabat Abu Hurairah juga meriwayatkan dari Rasulullah :لاَيَمْنَعُ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشْبَةً فِيْ جِدَارِهِ“Tidaklah pantas seseorang menghalangi bagi tetangganya untuk menumpangkan kayu/ papan pada dinding rumahnya. (H.R. Al Bukhari no. 2463 dan Muslim no. 1609, dari sahabat Abu Hurairah). Telah datang pula riwayat dari sahabat Abdullah bin Amr . Ketika putranya menyembelih seekor kambing dan ingin dibagikan ke tetangganya, maka beliau menyuruhnya untuk memulai dari tetangga yang beragama Yahudi. Tiba-tiba ada seseorang yang mengingkarinya. Maka beliau berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah senantiasa mendapat wasiat (dari Jibril) tentang tetangga, sampai dikhawatirkan tetangga juga berhak mendapatkan harta waris.” (Al Adabul Mufrad no. 128, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)Dan juga hadits-hadits lainnya, sehingga Islam telah memberikan pengajaran tentang sikap yang harus dimiliki oleh setiap umat Muhammad untuk selalu tanggap dan peduli dengan tetangganya, walaupun ia seorang kafir.Akhir kata, mudah-mudahan nasehat ini dapat menggugah kaum muslimin untuk peduli dengan tetangganya, Amin ya Rabbal ‘alamin (Sumber: Assalafy.org)

Hikmah Negosiasi Rasulullah Dalam Perintah Shalat

Didalam hadits yang diriwayatkan dari Anas tentang malam isro dan mi’raj dijelaskan Nabi saw berkata bahwa Allah swt mewajibkan kepada umatku lima puluh kali (waktu) shalat kemudian aku kembali dengan perintah itu sehingga aku melewati Musa dan dia berkata,”Apa yang diwajibkan Allah untukmu terhadap umatmu.’
Aku mengatakan, ’Dia swt telah mewajibkan lima puluh kali (waktu) shalat.’ Musa berkata,’Kembalilah kepada Tuhanmu, sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melakukannya.’ Maka aku pun kembali menemui-Nya sehingga Dia swt menetapkan setengahnya.
Aku kembali kepada Musa dan aku katakan,’Dia swt telah menetapkan setengahnya.’ Musa mengatakan,’Kembali lah ke Tuhanmu, sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melakukannya.’ Maka aku pun kembali dan Dia swt menetapkan setangahnya. Aku pun kembali menemuinya (Musa) dan dia mengatakan,’Kembalilah kepada Tuhanmu, sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melakukannya.’
Maka, akupun kembali menemui-Nya dan Dia swt berkata,’Ia adalah lima kali yang sama dengan limapuluh kali dan tidak ada yang berubah perkataan-Ku.’ Aku kembali kepada Musa dan merasa malu terhadap Tuhanku.’.. (HR. Bukhori)
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa kembalinya Rasulullah saw kepada Tuhannya untuk meminta keringanan sampai beberapa kali menunjukkan bahwa perintah itu pada setiap kalinya belumlah sampai ke tingkat wajib berbeda dengan kali terakhir yang didalamnya ada indikasi akan kewajiban (itu) dengan firman-Nya,”Tidak akan berubah perkataan (ketetapan) disisi-Ku.”
Sebagian syeikh mengemukakan hikmah Nabi Musa menyuruh agar Nabi saw berkali-kali menghadap Allah dengan mengatakan,”Ketika Musa memohon untuk melihat Allah swt dia tidak dikabulkan lalu dia mengetahui bahwa hal seperti ini terjadi pada Muhammad saw maka dia menyuruhnya untuk kembali berkali-kali agar berkali-kali juga melihat-Nya….”
Ibnu Hajar juga menyebutkan diantara faedah perubahan dari limapuluh menjadi lima kali adalah bolehnya naskh (penghapusan hukum) sebelum hukum tersebut dilaksanakan, sebagaimana perkataan Ibnu Bathol,”Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah swt menghapus shalat yang lima puluh menjadi lima sebelum ia dilaksanakan. Kemudian Allah memberikan karunia-Nya dengan menyempurnakan pahala shalat.” (Fathul Bari juz I hal 555)
Allah swt mengetahui batas kesanggupan setiap hamba-Nya didalam melaksanakan perintah-perintah-Nya sebagaimana Dia swt juga mengetahui bahwa kemampuan setiap mereka tidaklah sama, ada dari mereka yang mampu melaksanakan setiap kali shalat lima waktunya di awal waktu, ada yang kadang-kadang saja bahkan ada yang dilakukan sendirian di akhir waktu dan sebagainya namun mereka semua tetap dihitung telah melaksanakan kewajibannya. Ada dari manusia yang mampu mengkhatamkan Al Qur’an setiap tiga hari, lima hari, seminggu, setengah bulan, sebulan atau mungkin lebih dari itu.
Dan diantara rahmat Allah kepada umat ini adalah diberikannya keringanan terhadap jumlah shalat yang harus dilakukan setiap muslim mulai dari lima puluh kali hingga akhirnya menjadi lima kali. Musa as mengkhawatirkan bahwa shalat yang lima puluh kali itu tidak akan sanggup dilaksanakan oleh umat Muhammad saw, sebagaimana dikatakan oleh al Qurthubi bahwa hikmah dari pengkhususan Musa dengan meminta Nabi Muhammad saw kembali ke Tuhannya dalam perintah shalat memungkinkan bahwa umat Musa pernah dibebankan dengan beberapa shalat yang tidak dibebankan kepada umat-umat sebelumnya dan hal itu cukup memberatkan mereka.
Untuk itu, Musa khawatir hal ini juga terjadi pada umat Muhammad saw, yang ditunjukkan dengan perkataannya,”Sesungguhnya aku telah merasakan hal ini sebelummu.”
Allah swt selain menetapkan kewajiban kepada hamba-hamba-Nya, Dia swt juga memperhatikan berbagai kemaslahatan dan kebaikan bagi mereka didalam menjalankan berbagai perintah-Nya tersebut. Allah swt tidak menginginkan adanya kesempitan dan kesulitan didalam menjalankan agamanya sehingga dapat membawa mudhrat bagi pemeluknya, sebagaimana firman-Nya :
يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Artinya : “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqoroh : 185)
Untuk itu Allah swt memperkenankan seorang yang didalam perjalanan untuk tidak berpuasa (berbuka), memperbolehkan bertayammum bagi orang yang tidak memiliki air untuk berwudhu, mempersilahkan seorang yang dalam perjalanan untuk menjama’ dan mengqashar shalat-shalatnya, demikianlah rahmat yang Allah berikan kepada umat Muhammad saw.
Dan diantara karunia Allah swt kepada umat Muhammad adalah meskipun shalat tersebut secara jumlah terkurangi dari limapuluh menjadi lima kali namun secara pahala maka ia sama dengan limapuluh kali.

Penggunaan Kata Ganti “Kami” Bagi Allah swt
Memang didalam Al Qur’an Allah swt banyak menyebutkan diri-Nya dengan menggunakan kata ganti orang pertama jama’ (kami), seperti firman-Nya :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr : 9)
Kata ganti “kami” ini digunakan untuk orang pertama (pembicara) dalam jumlah yang banyak baik untuk mereka laki-laki maupun perempuan. Orang-orang pertama lak-laki mengatakan,“Nahnu Muslimuun” yaitu “kami adalah orang-orang islam (laki-laki)”, sedangkan orang-orang pertama perempuan mengatakan,”Nahnu Muslimaat” yaitu “Kami orang-orang islam (perempuan).”
Dan apabila orang yang berbicara adalah tunggal (mufrod) namun menggunakan kata ganti jama’ “kami” maka ia menunjukkan bahwa si pembicara ingin mengagungkan dirinya sendiri. Dan penggunaan kata ganti “kami” didalam ayat-ayat semisal diatas padahal Sang Pembicaranya adalah tunggal, yaitu Allah swt maka menunjukkan bahwa Allah swt ingin mengagungkan diri-Nya sendiri, dan ini adalah hak Sang Pemilik keagungan dan kebesaran. (www. Islamweb.net)(Eramuslim.com)
Wallahu A’lam.

BOCAH MISTERIUS


"Hey kamu....ayo sini," sapa Luqman dengan halus kepada seorang bocah yang dengan sengaja menganggu anak kecil lain yang sedang berpuasa. "Siapa namamu? Dari mana asal kamu?" tanya Luqman sambil memegang lengan bocah itu. Sebenarnya Luqman gemas, tapi ia tahan kegemasan itu. Meski ditanya dengan sopan, bocah itu malah balik mendelik ke arah Luqman dan tertawa menyeringai! Tawa bocah itu membuat Luqman segera melepaskan pegangannya seketika. Luqman merasa bocah ini> bukanlah anak sembarangan. Sungguh pun penampilannya kayak bocah biasa.> Kaos plus celana pendek. Agak lusuh tapi bersih. Luqman melihat mata bocah itu. Mata itu bukanlah mata anak manusia> pada umumnya. Ditambah lagi, sebelumnya Luqman tidak pernah melihat> bocah itu dikampungnya, kampong Ketapang, Tangerang. Luqman sudah> bertanya kesana kemari, adakah tetangga atau orang dikampungnya yang> mengenali siapa bocah itu dan siapa keluarganya. Semua orang yang> ditanya Luqman menggelengkan kepala, tanda tak tahu.

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari> ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya,> menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal> ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak> menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil> tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.> Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air> dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut. Pemandangan> tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan> pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan> puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es> kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya. Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan> selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih> terik dari biasanya.> Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu.> Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan> memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti> isi daging tersebut.> Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur> ketakutan sekaligus keheranan.> Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan> kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan> melarangnya.

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang> kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara> misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan> hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi> daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu dating lagi. Benar, ia> menari-nari dengan menyeruput es> kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah,> tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu> tadi, bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot,> seakan-akan matanya akan keluar Luqman. "Bismillah..." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan> bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu> bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau> memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari keterangan,> siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.>> Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti> tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan> halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan> tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.

"Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti> isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu> sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan> bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada> Luqman. "Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab> Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga> berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah> menggoda orang dengan tingkahmu itu.." Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli> anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia> menatap Luqman lebih tajam lagi.>> "Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah> kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian> selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis> kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan,> dengan menimbun harta> sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang> sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit> menyerang, sementara kalian> mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput> ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi> kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu,> ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?"

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada> Luqman untuk menyela.> Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu> tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.> "Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa> berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada> makanan yang bias kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang> siang saja. Dan ketahuilah juga, juatru Tuan dan orang-orang di sekeliling> Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa> mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas> kalian menyebutnya denga istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis,> bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.>> Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda> kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini.> Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap> orang-orang kecil seperti kami...!>> Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah> kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?>> Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang> sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang> semestinya diingat?> Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan> hanya pada penggunaan harta,> tapi juga pada dosa dan maksiat. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan> yang akan menimpa?>> Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi.> Tuan..., jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan> pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah> menyatu dengan bumi kelak..."

Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat> demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa> dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah> benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini> bukanlah bocah sembarangan.>> Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi> begitu saja meninggalkan Luqman yang> dibuatnya terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu> menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke> luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan> pandangan ke seluruh sudut yang bias dilihatnya, tapi ia tidak menemukan> bocah itu.> Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung> jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang> menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu> keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang> ia malah menghilang!>> Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke> rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi> irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk> akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius> tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering> melupakan orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang tidak> berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki> penghidupan yang layak.

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya> mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah,> jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan> membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.> Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita> terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang> membungkuk menahan lapar.>> Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya> hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut> mati mata hatinya. Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau> dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang> dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran> bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya> orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang> menghendaki bercahayanya hati.>> Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman> tidak pernah lagi melihatnya,> selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan> tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran> anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah. (By: Yusuf M).

"Di setiap tetesan nikmat yang kita rasakan, ada baiknya kita mengingat bahwa ada orang lain yang juga berhak untuk ikut merasakannya"

Minggu, 15 Februari 2009

Nasib Mereka yang Belum Pernah Tahu Islam


Didalam fatwanya Syeikh Jadul Haq menyebutkan pendapat al Ghozali yang membagi manusia menjadi tiga golongan dalam hal bersentuhan dengan da’wah Rasulullah Muhammad saw kepada islam :
1. Orang yang tidak mengetahui islam sama sekali dari sarana manapun. Beliau (Ghozali) mengatakan bahwa orang yang semacam ini akan selamat.
2. Orang yang telah sampai kepadanya da’wah islamiyah dengan tampilan yang sebenarnya namun orang itu tidak ingin melihat kepada bukti-buktinya dikarenakan enggan, sombong dan menentangnya. Beliau mengatakan bahwa orang yang semacam ini akan mendapat siksa.
3. Orang yang telah sampai kepadanya da’wah islamiyah dengan tampilan yang tidak sebenarnya, seperti orang yang telah sampai kepadanya nama Muhammad saw dan tidak sampai kepadanya tentang sifat-sifat beliau saw akan tetapi dia mendengar namanya saw sejak kecil dari musuh-musuhnya yang pendusta dan membenci nabi saw. Beliau mengatakan bahwa orang yang semacam ini seperti golongan pertama.

Realitanya bahwa berjuta-juta manusia termasuk dalam golongan orang-orang yang pada asalnya tidak sampai kepadanya da’wah islam walaupun waktu diutusnya Muhammad saw dengan membawa aqidah dan syariah islam telah berlalu empat belas abad.
Hal itu bisa dikarenakan kebodohan mereka sama sekali terhadap islam, Rasulullah Muhammad saw, Qur’annya dan seluruh ajarannya. Atau bisa jadi mereka mengetahuinya dari musuh-musuh islam yang dikepalanya penuh dengan kebencian. Barangkali mereka termasuk orang-orang yang dimaafkan dalam berpalingnya mereka dari islam karena mereka tidak mendapatkan islam yang benar dari orang-orang yang benar.
Mereka adalah orang-orang yang disamakan dengan ahlul fatroh—orang-orang yang hidup setelah Nabi Isa as hingga diutusnya Muhammad saw—.


Terhadap Ahlul Fatroh ini maka terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulam :
1. Jumhur ulama Ahlus Sunnah mengatakan bahwa mereka selamat (dari adzab) dikarenakan tidak terkena pembebanan syari’at dan da’wah dan mereka termasuk orang-orang yang tidak sampai kepadanya da’wah.
2. Orang-orang mu’tazilah dan sekelompok ulama Hanafi mengatakan bahwa akal mempunyai kemampuan untuk mengetahui yang wajib, haram, keyakinan yang benar dan batil. Karena itu ahlul fatroh dan orang-orang yang tidak sampai kepadanya da’wah tidaklah selamat.
3. Jumhur Ahlus Sunnah (al asya’iroh) mengatakan bahwa tidak mungkin akal mengetahuinya apabila tidak melalui syariat.


Disebutkan pula didalam kitab “Kasyful Mubham” bahwa seorang anak yang kemudian baligh yang berada di suatu gunung yang tinggi dan tidak sampai kepadanya da’wah maka orang-orang asya’iroh dan para imam, seperti Bukhori dan para ulama Hanafi mengatakan bahwa orang itu tidak terkena beban untuk beriman hanya sebatas kemampuan akalnya selama tidak berlalu atasnya waktu untuk ia bisa memahami dan prakiraan rentang waktu tersebut diserahkan kepada Allah swt.
Kemudian disebutkan bahwa siapa yang mencapai usia baligh sementara dia berada di suatu gunung yang tinggi dan tidak sampai kepadanya da’wah, tidak meyakini berbagai keyakinan dan tidak mengamalkan berbagai syari’at maka menurut mu’tazilah dan sebagian ulama Hanafi orang itu akan mendapat siksa di akherat dikarenakan tidak menggunakan potensi akalnya. Sedangkan menurut al asya’iroh dan jumhur ulama Hanafi bahwa orang itu tidaklah diadzab dikarenakan hukum ditetapkan dengan syari’at dan telah diketahui bahwa syari’at tidak sampai kepadanya.
Didalam fatwanya beliau menyebutkan bahwa manusia terbagi menjadi tiga golongan :


1. Orang yang beriman yaitu yang mengimani Allah saja, membenarkan seluruh nabi dan rasul-Nya, mengarahkan wajahnya kepada Allah dalam keadaan baik dan mendapatkan hidayah kepada jalan Allah melalui wahyu Al Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw untuk seluruh alam... maka orang-orang ini termasuk yang selamat sebagaimana firman-Nya :
إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
Artinya : “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”(QS. Al Hajj : 14)
2. Orang yang kafir yaitu orang-orang yang telah sampai kepadanya da’wah islam, kenabian terakhir yang membawa aqidah dan syariat yang terdapat didalam Al Qur’an yang selalu dibaca, kebenaran yang murni tanpa ada cacatnya, tidak bercampur dengan berbagai penyimpangan dan kekacauan dalam makna dan pemahamannya, sebagaimana firman-Nya,”kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merenggut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri.” (QS, Al Mudatsir : 21 – 23).
Kemudian orang itu merasa nyaman dengan kekufuran dan keingkarannya bagaikan matahari ditengah hari mereka menolak untuk tunduk dengan kebenaran padahal ia memiliki kemampuan untuk menjadikan hatinya mendapat hidayah dan redho Tuhannya. Dan orang itu—tidak disangsikan lagi—telah berada dalam kekafiran yang jelas, sebagaimana firman Allah ;
ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
Artinya : “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad : 28)
3. Manusia baik laki-laki maupun perempuan yang tidak sampai kepadanya da’wah islam dari berbagai jalan penyampaian sehingga ia menerima atau membelakanginya maka ia menyandarkan kehidupannya sesuai dengan warisan dari nenek moyangnya dan tidak mendapatkan keyakinan dan pemikiran apa pun. Dan golongan yang ini banyak terdapat di tengah-tengah manusia dengan berbagai karakter, tabiat, lapisan dan keyakinan sehingga sulit untuk menyatukan mereka dalam satu hukum. Dari mereka mungkin ada yang terbuka fitrahnya hingga sempurna, memuliakan akal sehingga menjauhi dosa dan melakukan berbagai perbuatan mulia dan memenuhi hak-haknya. Atau ada juga dari mereka ada yang membebek kepada orang lain dan lainnya ....


Ringkasnya : Apabila telah ada bukti bahwa suatu kaum itu tidak mengetahui segala sesuatu yang ada di alam ini dari berbagai sarana informasi, komunikasi dan transportasi dan tidak mengetahui dan tidak sampai kepadanya islam, baik aqidah, syariat dan akhlaknya melalui sumbernya Al Qur’an, Sunnah Nabi yang mulia maka mereka adalah seperti ahlul fatroh dari kalangan orang-orang arab yang tidak tersentuh dengan da’wah islam dan tidak mengetahuinya.
Dan apabila telah sampai kepada mereka da’wah islam dan mengetahuinya, baik aqidah dan syariatnya namun kemudian mereka enggan menerimanya dan tidak meluangkan waktunya bersama para alim ulama maka ia tidaklah dimaafkan dan tidak dianggap sebagai orang yang bodoh (tidak mengetahui). (disarikan dari Buhuts wa Fatawa Islamiyah juz IV hal 317 – 326)
Jadi terhadap orang-orang yang seperti anda tanyakan, yaitu orang-orang yang sama sekali belum pernah mengenal islam dikarenakan keterasingannya dari dunia luar sehingga tidak pernah mengetahui bahwa di alam ini telah diutus Muhammad saw dengan membawa syari’at yang lurus dengan membawa Al Qur’an yang mengajak kepada kebenaran maka mereka termasuk orang-orang yang dimaafkan, sebagaimana firman Allah swt :
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّ يَعْلَمُونَ
Artinya : “demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah : 6)


(Sumber: Ustadz Sigit Pranowo, Lc/Eramuslim)

Senin, 09 Februari 2009

Mensikapi Fatwa MUI Tentang GOLPUT

Kedudukan Fatwa
Pada bulan lalu tidak kurang 700 ulama negeri ini yang tergabung didalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah berkumpul di Sumatera Barat dan diantara keputusannya adalah terkait dengan masalah golput didalam Pemilu.
Fatwa atau ifta’ adalah penjelasan tentang hukum syar’i dari suatu permasalahan umat yang merupakan suatu jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Sedangkan orang yang melakukan tugas ini disebut dengan mufti. Ia adalah seorang yang mengetahui tentang hukum-hukum syari’ah, berbagai persoalan, kejadian dan telah dianugerahi dengan ilmu serta memiliki kemampuan untuk mengambil dari dalil-dalil hukum syar’i.
Tugas ini begitu besar nilainya di sisi Allah swt sehingga seorang mufti dianggap sebagai wakil Allah didalam memberikan penjelasan tentang hukum-hukum yang terdapat di dalam Al Qur’an maupun Sunnah. Untuk itu Ibnul Qoyyim menyebutkan bahwa seorang mufti adalah ‘petugas resmi’ Allah terhadap apa yang difatwakannya. Firman Allah swt :
يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ
Artinya : “mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah.” (QS. An Nisaa : 176)
Orang yang pertama bertugas memberikan penjelasan tentang hukum-hukum Allah swt kepada umat adalah Rasulullah saw, kemudian para sahabat, tabi’in, tabi’i tabi’in hingga para ulama sampai dengan hari ini.
Pemberian fatwa ini, selain dilakukan oleh perorangan (alim) ia juga bisa dilakukan oleh sekelompok orang (ulama) atau suatu lembaga fatwa di suatu tempat atau negeri tertentu, seperti MUI di Indonesia.
Adapun terkait fatwa yang telah diambil seorang mufti atau lembaga fatwa maka pada dasarnya ia tidak mengikat kecuali terhadap :


1. Orang yang bertanya kepada mufti’.
Syeikh Jadul Haq Ali Jadil Haq, Mufti di Negara Mesir pada tahun 80-an mengatakan bahwa sesungguhnya fatwa hanyalah sebatas penjelasan hukum syar’i terhadap realita yang ditanyakan. Karena itu fatwa tidaklah memiliki kekuatan mengikat namun demikian ia memiliki kekuatan mengikat terhadap orang yang meminta fatwa dari beberapa sisi :
a. Komitmen orang yang meminta fatwa untuk beramal takwa.
b. Upaya penerapan hukum yang telah disingkap melalui fatwa.c. Apabila hatinya merasa nyaman dengan kebenaran fatwa dan mempercayainya maka ia terikat dengan fatwa tersebut.d. Apabila upayanya memiliki keterbatasan terhadap permasalahan yang terjadi sementara ia tidak mendapati mufti selainnya maka ia harus mengambil fatwa tersebut. Adapun apabila dia mendapatkan mufti lainnya yang sependapat dengan fatwa pertama maka ia terikat olehnya. Apabila berbeda diantara keduanya dan tampak kebenaran pada salah satunya maka ia harus mengamalkan fatwa yang tampak kebenarannya itu.
2. Seorang mujtahid yang melihat fatwa tersebut dengan menggunakan dalil-dalil syar’i dan melihat bahwa fatwa tersebut benar.
3. Orang-orang yang taqlid (tidak memiliki kapasitas ilmu terhadap permasalahan itu) dan meyakini kebenaran fatwa tersebut.
Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa sesungguhnya fatwa mufti bersifat syari’at lagi umum berkaitan dengan orang yang bertanya ataupun selainnya. Adapun seorang hakim maka hukumnya bersifat parsial lagi khusus tidak menyangkut orang yang tidak dihukum. Seorang mufti memberikan fatwa dalam hal hukum yang umum lagi menyeluruh, yaitu siapapun orang yang melakukan hal itu maka ia termasuk didalamnya dan siapa pun yang mengatakan hal itu maka ia terikat dengan fatwa itu. Sedangkan hakim memutuskan suatu keputusan tertentu terhadap orang tertentu dan keputusannya itu bersifat khusus lagi mengikat. Dan fatwa seorang alim bersifat umum dan tidak mengikat. Keduanya mendapatkan pahala yang besar namun dengan resiko yang besar pula. (I’lamul Muwaqqi’in juz I hal 46)

Seputar Fatwa MUI tentang Golput
Diantara point-point dari Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang tidak menggunakan hak pilih didalam Pemilihan Umum :
Salah satu dari dua rekomendasinya :
“Umat Islam dianjurkan untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar.”
Butir-butir yang menjadi landasan rekomendasi tersebut :
butir ke-4 : Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (shidiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat islam hukumnya adalah wajib.
butir ke-5 : Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.
butir ke-1 : Pemilihan Umum dalam pandangan islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.
Dan jika kita perhatikan dari point-point diatas tampak MUI begitu bijaksana dan sangat berhati-hati. Hal itu terlihat dari adanya tiga hukum yang terkait dengan penggunaan hak pilih didalam pemilihan umum :
1. Dianjurkan (mandub atau sunnah) yang ada didalam rekomendasi.2. Wajib yang ada didalam butir ke-4.3. Haram namun dengan persyaratan yaitu, haram golput selama ada calon yang memenuhi syarat, pada butir ke-5.
Didalam butir ke-5 tidak ada penjelasan rinci tentang kata-kata ‘memenuhi syarat’, apakah yang dimaksud syarat-syarat yang disebutkan didalam butir ke-1 atau butir ke-4 atau kedua-duanya.
Isi butir ke-5 “….. atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.” dan jika menggunakan pemahaman berbalik maka bisa diartikan dengan “…. atau tidak memilih sama sekali (golput) ketika tidak ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah tidak haram”
Kemudian didalam Rekomendasinya MUI menganjurkan umat islam untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar. Kata-kata ‘menganjurkan’ berbeda dengan ‘mewajibkan’ begitu pula didalam konsekuensi hukumnya. Artinya seorang muslim yang melakukan perintah tersebut akan mendapatkan pujian dan pahala dari Allah swt dan jika ia tidak melakukannya maka ia tidaklah tercela dan tidak juga mendapatkan dosa dari-Nya.
Dari butir ke-5 dan rekomendasi tersebut tampak tidak ada pengharaman GOLPUT oleh MUI secara mutlak namun demikian MUI menganjurkan agar umat islam memilih orang-orang yang mengemban amar ma’ruf nahi munkar.
Kemudian ukuran apakah seorang calon pemimpin atau wakil rakyat memenuhi syarat-syarat diatas atau tidak, siap mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar atau tidak akan berpulang kepada pengetahuan dan pemahaman setiap pemilih yang memungkinkan terjadinya perbedaan diantara mereka. Bisa saja seorang pemilih melihat seorang calon pemimpin atau wakil rakyat telah memenuhi syarat namun tidak menurut yang lainnya. Bisa saja seorang pemilih melihat seorang calon dapat mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar namun tidak menurut yang lainnya.
Dengan demikian—wallahu a’lam—pada akhirnya putusan akan dikembalikan kepada ijtihad (upaya sungguh-sungguh) setiap pemilih muslim dalam melihat semua calon pemimpin maupun wakil-wakilnya dan hendaknya dia menghindari adanya faktor-faktor emosional didalam ijtihadnya itu, seperti : semata-mata hanya karena satu etnis, daerah, profesi, kelompok, organisasai atau balas jasa yang dapat merusak obyektifitas dalam memberikan penilaian. Dan keputusan apa pun yang dihasilkan seorang pemilih dari upayanya itu maka ia tidak akan keluar dari apa yang difatwakan MUI.
Selama upaya tersebut diniatkan semata-mata beribadah kepada Allah dan untuk kebaikan islam dan kaum muslimin maka akan mendapatkan pahala dari Allah swt.
Wallahu A’lam (Sumber: Eramuslim)

Sabtu, 07 Februari 2009

Nice Guys Finish Last


Tanya :

2 kali saya berpacaran 2 kali saya dikecewakan.Dalam hubungan tersebut saya berusaha untuk menjadi seseorang yang baik.Tapi kenapa ya semuanya selalu mengecewakan, dan kesemuanya selalu saja saat ingin mengakhiri hubungan tersebut selalu pasangan saya melakukan shalat tahajud terlebih dahulu dan dengan jawaban kalau saya bukan yang terpilih.Sadar tidak sadar saya frustasi untuk menjadi sesorang yang baik bagi pasangan saya.Apakah benar ungkapan Nice guys itu selalu finish terakhir.dan beraku pada diri saya......mohon pendapatnya pak ustadz
Gatis


Jawaban:
Saudara penanya yang dirahmati Allah SWT, dua kali berpacaran dan dua kali putus karena pasangan menarik diri setelah sholat istikhoroh. Menurut pengalaman saya, seringkali orang mengkambinghitamkan sholat istikhoroh sebagai alasan untuk menerima atau menolak sesuatu (termasuk dalam hal menerima atau menolak jodoh). Hal ini keliru, sebab fungsi sholat istikhoroh bukan untuk memilih keputusan mana yang akan diambil, tetapi untuk berserah diri kepada Allah tentang keputusan yang telah kita ambil. Coba saudara penanya buka kembali hadits-hadits tentang sholat istikhoroh. Disitu akan terlihat bahwa sholat istikhoroh digunakan Nabi Muhammad saw bukan untuk memilih keputusan, tetapi untuk memantapkan keputusan yang telah diambil.

Untuk mengambil keputusan bukan sholat istikhoroh sarananya, akan tetapi akal/logika yang sehat. Salah satunya dengan menimbang-nimbang secara rasional mana yang baik dan buruk dari setiap alternatif yang ada.Jadi selama ini banyak orang yang salah kaprah tentang fungsi sholat istikhoroh. Sungguh Allah yang Maha Bijaksana tidak mungkin menganjurkan kita untuk mengambil keputusan dengan mengandalkan tanda-tanda dari sholat istikhoroh yang sangat subyektif dan seringkali tidak masuk akal. Ada orang yang yakin bahwa setelah sholat istikhoroh, Allah akan memberikan tanda-tanda berupa mimpi atau firasat tentang keputusan yang akan diambilnya. Misalnya, kalau jodoh tidak cocok mimpinya berupa wanita lain yang bersanding dengannya. Atau kalau berupa firasat tandanya perasaan tidak enak/tidak tenang terhadap salah satu keputusan. Mimpi dan firasat sesungguhnya tidak dapat dijadikan sandaran utama dalam mengambil keputusan. Yang perlu dijadikan sandaran utama dalam mengambil keputusan adalah pertimbangan yang logis (ilmiah) berdasarkan dalil aqli (akal) dan naqli (al Qur’an dan Hadits), bukan mengandalkan mimpi dan firasat. Para ulama sepakat bahwa mimpi dan firasat sangat bersifat pribadi dan subyektif, sehingga tidak boleh digunakan dalam mengambil keputusan (berfatwa).

Jadi kembali kepada pertanyaan saudara, ada dua kemungkinan mengapa anda dua kali ditolak setelah pasangan Anda sholat istikhoroh. Pertama, mungkin pasangan Anda salah kaprah tentang fungsi sholat istikhoroh, sehingga mengandalkan tanda-tanda sholat istikhoroh yang sangat subyektif dalam mengambil keputusan. Dengan kata lain, pasangan Anda mengambil keputusan yang tidak logis dalam memutuskan hubungan dengan Anda. Kedua, mungkin alasan sholat istikhorah hanya dalih untuk memutuskan hubungan dengan Anda. Alasan yang sebenarnya tidak diutarakan kepada Anda karena khawatir menyinggung perasaan Anda atau keluarga Anda. Ada baiknya Anda instrospeksi secara logis mengapa dua kali gagal dalam berhubungan. Mungkinkah karena ada sifat atau perilaku Anda yang kurang baik (kurang disenangi laki-laki)? Cobalah mengkoreksi diri secara adil dan rasional agar hal tersebut tidak terulang lagi di kemudian hari. Yang jelas, yakinlah saudaraku bahwa Allah telah memilihkan jodoh untuk kita. Cepat atau lambat ia akan hadir dalam kehidupan kita. Wallahu’alam. (Satria Hadi Lubis)Mentor Kehidupan

Kamis, 05 Februari 2009

Perbedaan Antara Memberi Nasehat Dengan Menjelekkan Orang Lain

Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, selalu ada kelemahan dan kekurangannya. Setiap manusia mesti mempunyai kesalahan dan sebaik-baik mereka adalah yang bertaubat kepada Allah, menyadari akan kesalahannya, lalu menyesal dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.Oleh karena itu nasehat menasehati menuju kebenaran harus digalakkan, bagi yang dinasehati seharusnya ia berterima kasih kepada orang yang telah menunjukkan kekurangan dan kesalahannya, hanya saja hal ini jarang terjadi, pada umumnya manusia tidak suka disalahkan apalagi kalau teguran itu disampaikan kepadanya dengan cara yang tidak baik.Maka seorang pemberi nasehat haruslah mengetahui metode yang baik agar nasehatnya dapat diterima oleh orang lain.

Diantara metode nasehat yang baik adalah memberi nasehat kepada orang lain secara rahasia tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam kesempatan ini akan kami nukilkan penjelasan para ulama tentang adab yang satu ini.Nasehat para ulama tentang menasehati secara rahasiaImam Ibnu Hibban (wafat tahun 534 H) berkata yang artinya, “Nasehat itu merupakan kewajiban manusia semuanya, sebagaimana telah kami sebutkan sebelum ini, tetapi dalam teknik penyampaiannya haruslah dengan cara rahasia, tidak boleh tidak, karena barangsiapa yang menasehati saudaranya dihadapan orang lain maka berarti dia telah mencelanya, dan barangsiapa yang menasehatinya secara rahasia maka dia telah memperbaikinya.

Sesungguhnya menyampaikan dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritik yang membangun, lebih besar kemungkinannya untuk diterima dibandingkan menyampaikan dengan maksud mencelanya.”Kemudian Imam Ibnu Hibban menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Sufyan, ia berkata yang artinya, “Saya berkata kepada Mis’ar, ‘Apakah engkau suka apabila ada orang lain memberitahumu tentang kekurangan-kekuranganmu?’ Maka ia berkata, ‘Apabila yang datang adalah orang yang memberitahukan kekurangan-kekuranganku dengan cara menjelek-jelekkanku maka saya tidak senang, tapi apabila yang datang kepadaku adalah seorang pemberi nasehat maka saya senang’.”Kemudian Imam Ibnu Hibban berkata bahwa Muhammad bin Said al Qazzaz telah memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Mansur telah menceritakan kepada kami, Ali ibnul Madini telah menceritakan kepadaku, dari Sufyan ia berkata yang artinya, “Talhah datang menemui Abdul Jabbar bin Wail, dan di situ banyak terdapat orang, maka ia berbicara dengan Abdul Jabbar menyampaikan sesuatu dengan rahasia, kemudian setelah itu beliau pergi. Maka Abdul Jabbar bin Wail berkata, ‘Apakah kalian tahu apa yang ia katakan tadi kepadaku?’ Ia berkata, ‘Saya melihatmu ketika engkau sendang shalat kemarin sempat melirik ke arah lain’.”

Imam Ibnu Hibban berkata yang artinya, “Nasehat apabila dilaksanakan seperti apa yang telah kami sebutkan akan melanggengkan kasih sayang, dan menyebabkan terealisasinya ukhuwah.”Imam Ibnu Hazm (wafat tahun 456H) berkata yang artinya, “Maka wajib atas seseorang untuk selalu memberi nasehat, baik yang diberi nasehat itu suka ataupun benci, tersinggung atau tidak tersinggung. Apabila engkau memberi nasehat maka nasehatilah secara rahasia, jangan dihadapan orang lain, dan cukup dengan memberi isyarat tanpa terus terang secara langsung, kecuali apabila orang yang dinasehati tidak memahami isyaratmu maka harus secara terus terang. Janganlah engkau menasehati orang lain dengan syarat nasehatmu harus diterima. Apabila engkau melampaui adab-adab tadi maka engkau yang dzalim bukan pemberi nasehat, dan gila ketaatan serta gila kekuasaan bukan pemberi amanat dan pelaksana hak ukuwah. Ini (-yakni memberi nasehat dengan syarat harus diterima-) bukanlah termasuk hukum akal dan hukum persahabatan melainkan hukum rimba, bagaikan seorang penguasa dengan rakyatnya dan tuan dengan hamba sahayanya.”Imam Ibnu Rajab (wafat tahun 795H) berkata yang artinya, “Al Fudhail (wafat tahun 187H) berkata, ‘Seorang mukmin menutup (aib saudaranya) dan menasehatinya sedangkan seorang fajir (pelaku maksiat) membocorkan (aib saudaranya) dan memburuk-burukkannya’.”

Apa yang disebutkan oleh al Fudhail ini merupakan ciri antara nasehat dan memburuk-burukkan, yaitu bahwa nasehat itu dengan cara rahasia sedangkan menjelek-jelekkan itu ditandai dengan penyiaran. Sebagaimana dikatakan, ‘Barangsiapa mengingatkan saudaranya ditengah-tengah orang banyak maka ia telah menjelek-jelekkannya.Dan orang-orang salaf membenci amar ma’ruf nahi mungkar secara terang-terangan, mereka suka kalau dilakukan secara rahasia antara yang menasehati dengan yang dinasehati, ini merupakan ciri nasehat yang murni dan ikhlash, karena si penasehat tidak mempunyai tujuan untuk menyebarkan aib-aib orang yang dinasehatinya, ia hanya mempunyai tujuan menghilangkan kesalahan yang dilakukannya.

Sedangkan menyebarluaskan dan menampakkan aib-aib orang lain maka hal tersebut yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Alleh mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui” (An Nur : 19).Dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan menutup aib seorang muslim tidak terhitung banyaknya.

Imam Syafi’i (wafat tahun 204H) berkata dalam syairnya yang artinya:Hendaklah engkau sengaja mendatangiku untuk memberi nasehat ketika aku sendirianHindarilah memberi nasehat kepadaku ditengah khalayak ramaiKarena sesungguhnya memberi nasehat dihadapan banyak orang sama saja dengan memburuk-burukkan, saya tidak suka mendengarnyaJika engkau menyalahi saya dan tidak mengikuti ucapanku maka janganlah engkau kaget apabila nasehatmu tidak ditaati. Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata yang artinya, “Perlu diketahui bahwa nasehat itu adalah pembicaraan yang dilakukan secara rahasia antaramu dengannya, karena apabila engkau menasehatinya secara rahasia dengan empat mata maka sangat membekas pada dirinya, dan dia tahu bahwa engkau pemberi nasehat, tetapi apabila engkau bicarakan dia dihadapan orang banyak maka besar kemungkinan bangkit kesombongannya yang menyebabkan ia berbuat dosa dengan tidak menerima nasehat, dan mungkin pula ia menyangka bahwa engkau hanya ingin balas dendam dan mendeskreditkannya serta untuk menjatuhkan kedudukannya di mata manusia, sehingga ia tidak menerima isi nasehat tersebut, tetapi apabila dilakukan secara rahasia antara kamu dan dia berdua maka nasehatmu itu amat berarti bagi dia, dan dia akan menerimanya darimu.”Kapan dibolehkan memberi nasehat dihadapan orang lain?Walaupun demikian ada beberapa perkecualian yang membolehkan atau mengharuskan seseorang untuk menasehati orang lain di depan banyak orang.

Salah seorang Imam Masjid di kota Khobar Saudi Arabia dalam salah satu khutbah Jum’ahnya mengatakan, “Umat Islam, mereka itu memiliki kehormatan dan harga diri, oleh karena itu haruslah kita menjaga hak-hak dan kehormatan mereka, haruslah kita memelihara perasaan mereka, tetapi kadang-kadang sesuatu nasehat yang akan engkau sampaikan kepada orang lain apabila engkau tunda, maka akan terlambat, maka harus sekarang juga engkau menasehatinya sebelum terlambat. Contohnya sebagaimana terdapat dalam Shahih Muslim. Dari Jabir bahwasanya ia berkata, ‘Sulaik al Ghathafani datang (ke masjid) hari Jum’ah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di atas mimbar, maka Sulaik langsung duduk tanpa shalat terlebih dahulu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, ‘Apakah engaku telah melaksanakan sholat dua rakaat?’ Ia berkata, ‘Belum’ Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepadanya,‘Bangunlah dan shalatlah dua rakaat’.’”Ini bukannya sedang memburuk-burukkan atau menyiarkan kesalahan orang tersebut, karena saat itu adalah waktu yang tepat untuk menasehatinya, apabila dibiarkan maka akan terlewatkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan setiap muslim yang masuk ke dalam masjid agar shalat dua rakaat terlebih dahulu sebelum ia duduk, perintah tersebut mengharuskan untuk dilaksanakan padaa saat itu juga tidak bisa ditunda sampai selesai shalat Jum’ah.Akan tetapi apabila memungkinkan bagimu untuk menunda nasehat sampai selesainya majelis lalu engkau menasiehati sesreorang dihadapan orang lain di majelis tersebut maka hal ini tidak benar.PenutupSebagai penutup marilah kita simak ucapan Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam salah satu ceramahnya yang artinya, “Sangat disayangkan sekali ketika saya mendengar tentang orang-orang yang termasuk memiliki kesungguhan dalam mencari dan menerima kebenaran, akan tetapi mereka berpecah belah, masing-masing di antara mereka memiliki nama dan sifat tertentu.

Fenomena seperti ini sesungguhnya tidak benar, dan sesungguhnya dien Allah itu satu dan ummat Islam adalah ummat yang satu, Allah berfirman yang artinya:Sesunggunya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku adalah Rab kalian maka bertakwalah kepada-Ku (Al Mu-minun: 52)Dan Allah Ta’ala berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat” (Al An’am : 159)Dan Allah Ta’ala berfirman yang artinya,“Dia telah mensyaratkan bagi kalian tentang dien yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah dien dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya” (Asy Syra: 13).

Apabila hal ini merupakan bimbingan Allah kepada kita maka seharusnya kita praktekkan bimbingan ini, kita berkumpul untuk mengadakan suatu pembahasan, saling berdiskusi dalam rangka ishlah (perbaikan) bukan untuk mendeskreditkan atau membalas dendam, karena sesungguhnya siapa saja yang membantah orang lain atau adu argumentasi dengan maksud mempertahankan pendapatnya atau untuk menghinakan pendapat orang lain dan bermaksud untuk mencela bukan untuk ishlah maka hasilnya tidak di ridhai oleh Allah dan rasul-Nya, pada umumnya demikian.

Kewajiban kita adalah untuk menjadi umat yang satu, saya tidak mengatakan bahwa setiap manusia tidak memiliki kesalahan, bahkan manusia itu memiliki kesalahan disamping memiliki kebenaran. Hanya saja pembicaraan kita sekarang ini mengenai cara memperbaiki kesalahan, maka bukan cara yang benar untuk memperbaiki kesalahan apabila saya menyebutkannya dibelakang orang tersebut sambil menjelek-jelekkannya, akan tetapi cara yang benar untuk memperbaikinya adalah berkumpul dengannya dan mendiskusikannnya, apabila terbukti setelah itu bahwa orang tersebut tetap mempertahankan kebatilannya maka saat itu saya memiliki alasan bahkan wajib atas saya untuk menjelaskan kesalahannya, dan memperingatkan manusia dari kesalahan orang tersebut, dengan demikian urusan-urusan menjadi baik.

Sedangkan perpecahan dan bergolong-golongan maka sesungguhnya yang demikian tidak disukai oleh siapapun, kecuali oleh musuh-musuh Islam dan musuh kaum muslimin.

”Dinukil dari Tulisan Ustadz Fariq bin Gasim Anuz pada Majalah As Sunnah.

Temuan Ilmiah Modern: Syukur Menambah Nikmat !

Ilmuwan meneliti peran sikap bersyukur atau berterima kasih. Bersyukur, selain menyehatkan jiwa-raga, juga mendorong terjalin dan terbinanya persahabatan antar manusiaSikap berterima kasih atau bersyukur mendorong terjalin dan terbinanya persahabatan antar manusia. Inilah kesimpulan S.B. Alqoe dkk. asal University of Virginia, Amerika Serikat (AS). Hasil penelitiannya dimuat di jurnal ilmiah Emotion, edisi Juni 2008 dengan judul "Beyond reciprocity: gratitude and relationships in everyday life" (Lebih dari sekedar hubungan timbal balik: sikap bersyukur dan persahabatan dalam hidup keseharian).Dalam karya ilmiah itu para ilmuwan meneliti peran sikap bersyukur atau berterima kasih yang muncul secara alamiah dalam perkumpulan mahasiswa di perguruan tinggi selama acara "pekan pemberian hadiah" dari anggota lama kepada anggota baru. Para anggota baru mencatat tanggapan atas manfaat yang mereka dapatkan selama pekan tersebut.Di akhir pekan itu, dan satu bulan kemudian, anggota lama dan anggota baru menilai keadaan persahabatan dan hubungan di antara mereka.
Kesimpulannya, rasa terima kasih atas pemberian hadiah berpeluang memicu terbentuknya dan terpeliharanya persahabatan di antara mereka.Aneka manfaat syukurSelain jalinan persahabatan yang baik, sikap bersyukur kini terbukti secara ilmiah memicu pula aneka manfaat lain. Di antaranya manfaat kesehatan jasmani, ruhani dan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. Tidak heran jika "gratitude research" atau "penelitian tentang sikap bersyukur" menjadi salah satu bidang yang banyak diteliti ilmuwan abad ke-21 ini.Profesor psikologi asal University of California, Davis, AS, Robert Emmons, sekaligus pakar terkemuka di bidang penelitian "sikap bersyukur", telah memperlihatkan bahwa dengan setiap hari mencatat rasa syukur atas kebaikan yang diterima, orang menjadi lebih teratur berolah raga, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit, dan merasa secara keseluruhan hidupnya lebih baik.Dibandingkan dengan mereka yang suka berkeluh kesah setiap hari, orang yang mencatat daftar alasan yang membuat mereka berterima kasih juga merasa bersikap lebih menyayangi, memaafkan, gembira, bersemangat dan berpengharapan baik mengenai masa depan mereka. Di samping itu, keluarga dan rekan mereka melaporkan bahwa kalangan yang bersyukur tersebut tampak lebih bahagia dan lebih menyenangkan ketika bergaul.


Tak tersentuh sebelumnya

Dulu, sikap bersyukur atau berterima kasih sama sekali tidak terjamah dalam kajian ilmuwan psikologi tatkala profesor Emmons mulai mengkajinya di tahun 1998. Penelitian pertama prof Emmons melibatkan para mahasiswa kuliah psikologi kesehatan di universitasnya.Saat itu sang profesor mewajibkan sebagian dari para mahasiswa tersebut untuk menuliskan lima hal yang menjadikan mereka bersyukur setiap hari. Sedangkan mahasiswa selebihnya diminta mencatat lima hal yang menjadikan mereka berkeluh kesah. Tiga pekan kemudian, mahasiswa yang bersyukur memberitahukan adanya peningkatan dalam hal kesehatan jiwa-raga dan semakin membaiknya hubungan kemasyarakatan dibandingkan rekan mereka yang suka menggerutu.Di tahun-tahun berikutnya, profesor Emmons melakukan aneka penelitian yang melibatkan beragam kondisi manusia, termasuk pasien penerima organ cangkok, orang dewasa yang menderita penyakit otot-saraf dan murid kelas lima SD yang sehat. Di semua kelompok manusia ini, hasilnya sama: orang yang memiliki catatan harian tentang ungkapan rasa syukurnya mengalami perbaikan kualitas hidupnya.


Dampak latihan bersyukur

Melalui latihan, perasaan bersyukur dapat dibiasakan dalam diri seseorang. Pelatihan sengaja untuk menanamkan rasa syukur ini ternyata membawa dampak positif dalam beragam sisi kehidupan.Dalam penelitian menggunakan metoda membandingkan, ditemukan bahwa mereka yang menuliskan rasa syukurnya setiap pekan mendapatkan manfaat jasmani-ruhani yang lebih baik dibandingkan mereka yang terbiasa mencatat peristiwa menjengkelkan dan kejadian yang biasa-biasa saja. Di antara manfaat ini adalah olah raga yang lebih teratur, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit badan, merasa hidupnya secara keseluruhan lebih baik, dan berpengharapan lebih baik di minggu mendatang.Manfaat lain sikap berterima kasih tampak pada keberhasilan dalam mewujudkan cita-cita. Dibandingkan dengan orang-orang yang bersikap sebaliknya, mereka yang senantiasa memiliki daftar ungkapan rasa syukur lebih cenderung mengalami kemajuan dalam pencapaian cita-cita mereka. Cita-cita ini dapat berupa prestasi akademis, hubungan antar-sesama dan kondisi kesehatan.Penelitian lain dilakukan dengan melatih pembiasaan sikap bersyukur setiap hari pada diri sendiri. Kondisi positif seperti: waspada, bersemangat, tabah, penuh perhatian, dan daya hidup pada orang muda dewasa meningkat akibat pembiasaan sikap bersyukur. Perbaikan kondisi sebaik ini tidak dijumpai pada orang yang dilatih bersikap menggerutu atau pada orang yang menganggap dirinya lebih sejahtera dibanding orang lain.Selain itu, mereka yang memiliki rasa syukur setiap hari lebih memiliki jiwa sosial yang lebih baik dibandingkan mereka yang suka berkeluh kesah dan suka menganggap orang lain kurang beruntung. Golongan yang pertama tersebut cenderung menolong seseorang yang memiliki masalah pribadi, atau telah membantu dukungan semangat kepada orang lain.Pasien pun tak luput dari penelitian seputar sikap bersyukur ini. Dengan melibatkan sejumlah orang dewasa pengidap penyakit otot-saraf, pelatihan membiasakan sikap bersyukur berdampak baik pada pasien tersebut. Di antaranya adalah kualitas dan lama tidur yang lebih baik, lebih optimis dalam menilai kehidupan, lebih eratnya perasaan persahabatan dengan orang lain, serta suasana hati tenteram yang lebih sering dibandingkan dengan mereka yang tidak dilatih bersikap syukur.


Ketika syukur menjadi kebiasaan

Insan yang bersyukur menyatakan diri mereka merasakan tingginya perasaan positif, kepuasan hidup, semangat hidup, dan pengharapan baik di masa depan. Mereka juga mengalami kemurungan dan tekanan batin dengan kadar rendah.Kalangan yang memiliki kebiasaan kuat dalam bersyukur atau berterima kasih memiliki kemampuan menyelami jiwa orang lain dan mengambil sudut pandang orang lain. Mereka ditengarai lebih dermawan dan lebih ringan tangan oleh orang-orang di jalinan persahabatan mereka.Terdapat pula kaitan antara kerohanian seseorang dengan sikap bersyukur. Kecenderungan bersyukur lebih banyak dilakukan mereka yang secara teratur menghadiri acara keagamaan dan terlibat dalam kegiatan keagamaan seperti berdoa atau sembahyang dengan membaca bacaan relijius berkali-kali. Kaum yang bersyukur lebih cenderung mengakui keyakinan akan keterkaitan seluruh kehidupan, serta rasa ikatan dan tanggung jawab terhadap orang lain.Pribadi-pribadi yang bersyukur dilaporkan memiliki sifat materialistis yang rendah. Mereka tidak begitu menaruh perhatian penting pada hal-hal yang bersifat materi. Mereka cenderung tidak menilai keberhasilan atau keberuntungan diri mereka sendiri dan orang lain dari jumlah harta benda yang mereka kumpulkan.Dibandingkan dengan kaum yang kurang berterima kasih, kalangan yang bersyukur cenderung bukan berwatak pendengki terhadap kaum kaya, dan bersikap mudah memberikan apa yang mereka punya kepada orang lain.Nikmat bertambahProfesor Emmons menuangkan hasil-hasil temuan ilmiahnya itu dalam buku terkenalnya "Thanks! How the New Science of Gratitude Can Make You Happier" (Terima kasih! Bagaimana Ilmu Baru tentang Bersyukur Dapat Menjadikan Anda Lebih Bahagia) yang terbit tahun lalu. Buku ini memaparkan pula 10 kiat untuk menanamkan rasa syukur sepanjang tahun demi mendapatkan nikmat karunia yang bermanfaat dalam kehidupan.Temuan ilmiah tentang syukur ini mengukuhkan risalah ilahiah bahwa syukur adalah akhlak mulia yang mesti ada dalam diri manusia. Sebab, syukur memicu bertambah nikmat hidup seseorang:Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (Al Quran, Ibrahim, 14:7). [emotion/cr/hidayatullah]

Umar bin Abdul Aziz dan Lilin Negara

Siapa yang tak kenal Umar bin Abdul Aziz. Sosok pemimpin adil, arif, lagi berilmu. Banyak kisah teladan yang beliau tinggalkan untuk para peniti kebenaran. Inilah kisah ringkasnya. Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah kepada beliau. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz dalam keadaan malam menjelang. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, ?Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.? Penjaga itu masuk untuk memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata, ?Ijinkan dia masuk.?Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota, dan kaum muslimin di sana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak, orang-orang muhajirin dan anshar, para ibnu sabil, orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan?Apakah ada yang mengadukan? Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang kota kepada Umar bin Abdul aziz. Tak ada sesuatu pun yang disembunyikannya.Semua pertanyaan Umar dijawab lengkap oleh utusan itu. Ketika Semua pertanyaan Umar telah selesai dijawab semua, utusan itu balik bertanya kepada Umar.?Ya Amirul Mukminin, bagaimana keadaanmu, dirimu, dan badanmu? Bagaimana keluargamu, seluruh pegawai dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu? Umar pun kemudian dengan serta merta meniup lilin tersebut dan berkata, ?Wahai pelayan, nyalakan lampunya!? Lalu dinyalakannlah sebuah lampu kecil yang hampir-hampir tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang teramat kecil. Umar melanjutkan perkataanya, ?Sekarang bertanyalah apa yang kamu inginkan." Utusan itu bertanya tentang keadaannya. Umar memberitahukan tentang keadaan dirinya, anak-anaknya, istri, dan keluarganya. Rupanya utusan itu sangat tertarik dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Umar, mematikan lilin. Dia bertanya, ?Ya Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan." Umar menimpali, ?Apa itu??"Engkau mematikan lilin ketika aku menanyakan tentang keadaanmu dan keluargamu.?Umar berkata, ?Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu memmebelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin."Subhanallah, benar-benar mengagumkan! Segitu besar kesungguhan Umar dalam menjaga harta kaum muslimin, berbeda dengan mayoritas penguasa yang kita saksikan. (Sirah Umar bin abdul Aziz, Ibnul hakam hal. 155-156) Majalah Elfata.

HIDAYAH

Kisah Islam Mantan Bintang Pop Terkenal :Yusuf Islam
Kisah seorang artis yang bernama Cat Stevens yang (alhamdulillah) menjadi seorang muslim, kemudian ia dipanggil dengan nama Yusuf Islam. Inilah kisahnya seperti yang ia ceritakan, kami menukilnya secara ringkas. "Aku terlahir dari sebuah rumah tangga Nasrani yang berpandangan materialis. Aku tumbuh besar seperti mereka. Setelah dewasa, muncul kekagumanku melihat para artis yang aku saksikan lewat berbagai media massa sampai aku mengganggap mereka sebagai dewa tertinggi. Lantas akupun bertekad mengikuti pengalaman mereka. Dan benar, ternyata aku menjadi salah seorang bintang pop terkenal yang terpampang di berbagai media massa. Pada saat itu aku merasa bahwa diriku lebih besar dari alam ini dan seolah-olah usiaku lebih panjang daripada kehidupan dunia dan seolah-olah akulah orang pertama yang dapat merasakan kehidupan seperti itu. Namun pada suatu hari aku jatuh sakit dan terpaksa di opname di rumah sakit. Pada saat itulah aku mempunyai kesempatan untuk merenung hingga aku temui bahwa diriku hanya sepotong jasad dan apa yang selama ini aku lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasad. Aku menilai bahwa sakit yang aku derita merupakan cobaan ilahi dan kesempatan untuk membuka mataku. Mengapa aku berada disini? Apa yang aku lakukan dalam kehidupan ini? Setelah sembuh, aku mulai banyak memperhatikan dan membaca seputar permasalahan ini, lantas aku membuat beberapa kesimpulan yang intinya bahwa manusia terdiri dari ruh dan jasad. Alam ini pasti mempunyai Ilah. Selanjutnya aku kembali ke gelanggang musik namun dengan gaya musik yang berbeda. Aku menciptakan lagu-lagu yang berisikan cara mengenal Allah. Ide ini malah membuat diriku semakin terkenal dan keuntungan pun semakin banyak dapat aku raih. Aku terus mencari kebenaran dengan ikhlas dan tetap berada di dalam lingkungan para artis. Pada suatu hari temanku yang beragama Nasrani pergi melawat ke masjidil Aqsha. Ketika kembali, ia menceritakan kepadaku ada suatu keanehan yang ia rasakan di saat melawat masjid tersebut. Ia dapat merasakan adanya kehidupan ruhani dan ketenangan jiwa di dalamnya. Hal ini berbeda dengan gereja, walau dipadati orang banyak namun ia merasakan kehampaan di dalamnya. Ini semua mendorongnya untuk membeli al-Qur'an terjemahan dan ingin mengetahui bagaimana tanggapanku terhadap al-Qur'an. Ketika aku membaca al-Qur'an aku dapati bahwa al-Qur'an mengandung jawaban atas semua persoalanku, yaitu siapa aku ini? Dari mana aku datang? Apa tujuan dari sebuah kehidupan? Aku baca al-Qur'an berulang-ulang dan aku merasa sangat kagum terhadap tujuan dakwah agama ini yang mengajak untuk menggunakan akal sehat, dorongan untuk berakhlak mulia dan akupun mulai merasakan keagungan Sang Pencipta. Semakin kuat perasaan ini muncul dari jiwaku, membuat perasaan bangga terhadap diriku sendiri semakin kecil dan rasa butuh terhadap Ilah Yang Maha Berkuasa atas segalanya semakin besar di dalam relung jiwaku yang terdalam. Pada hari Jum'at, aku bertekad untuk menyatukan akal dan pikiranku yang baru tersebut dengan segala perbuatanku. Aku harus menentukan tujuan hidup. Lantas aku melangkah menuju masjid dan mengumumkan keislamanku. Aku mencapai puncak ketenangan di saat aku mengetahui bahwa aku dapat bermunajat langsung dengan Rabbku melalui ibadah shalat. Berbeda dengan agama-agama lain yang harus melalui perantara." Demikianlah Yusuf Islam memeluk agama Islam. Setelah masuk Islam ia tidak hanya duduk di tempat ibadah menyembah Allah yang telah menguasai hatinya dengan kecintaan, namun ia melakukan aktifitas untuk kemaslahatan agama ini. Ia ikut andil di dalam berbagai lembaga dan yayasan Islam yang bergerak di bidang dakwah dan sosial. Semoga Allah memberinya ganjaran yang baik atas sumbangsih yang telah ia berikan kepada kita, agama Islam dan kaum muslimin. (alsofwah).

Senin, 26 Januari 2009

Kandungan ROKOK



Setiap batang rokok yang dinyalakan akan mengeluarkan lebih 4 000 bahan kimia beracun yang membahayakan dan boleh membawa maut. Dengan ini setiap sedutan itu menyerupai satu sedutan maut. Di antara kandungan asap rokok termasuklah bahan radioaktif (polonium-201) dan bahan-bahan yang digunakan di dalam cat (acetone), pencuci lantai (ammonia), ubat gegat (naphthalene), racun serangga (DDT), racun anai-anai (arsenic), gas beracun (hydrogen cyanide) yang digunakan di “kamar gas maut” bagi pesalah yang menjalani hukuman mati, dan banyak lagi. Bagaimanapun, racun paling penting adalah Tar, Nikotin dan Karbon Monoksida.
Tar
mengandungi sekurang-kurangnya 43 bahan kimia yang diketahui menjadi penyebab kanser (karsinogen). Bahan seperti benzopyrene iaitu sejenis policyclic aromatic hydrocarbon (PAH) telah lama disahkan sebagai agen yang memulakan proses kejadian kanser.
Nikotin
, seperti najis dadah heroin, amfetamin dan kokain, bertindak balas di dalam otak dan mempunyai kesan kepada sistem mesolimbik yang menjadi punca utama penagihan. Sindrom ketagihan terhadap nikotin yang ditunjukkan dengan gejala gian, tolerans dan tarikan, adalah mungkin lebih hebat berbanding najis dadah. Malah daripada kajian saintifiknya nikotin itu juga sejenis najis dadah, sepertimana yang telah diiktiraf oleh dunia perubatan. Seseorang yang kehabisan rokok kadangkala berkelakuan seperti mengalami gangguan akal dan dalam keadaan yang amat tertekan sekali. Oleh itu terlalu sukar untuk sesiapa yang telah terjerat dengan ketagihan merokok, meninggalkan tabiat itu untuk selamanya, kecuali dengan ikhtiar yang serius dan kehendak Allah jua.
Nikotin turut menjadi punca utama risiko serangan penyakit jantung dan strok. Hampir satu perempat mangsa pesakit jantung adalah hasil punca dari tabiat merokok. Di Malaysia, sakit jantung merupakan menyebab utama kematian sementara strok adalah pembunuh yang keempat.
Karbon Monoksida pula adalah gas beracun yang biasanya dikeluarkan oleh ekzos kenderaan. Gas ini menjejaskan bekalkan oksigen ke tisu-tisu hingga ianya menjadi terencat dan akhirnya boleh menyebabkan maut sekiranya paras karbon monoksida di dalam badan melebihi 60%.
Apabila racun rokok itu memasuki tubuh manusia ataupun haiwan, ianya akan membawa kerosakkan pada setiap organ disepanjang laluannya, iaitu bermula dari hidung, mulut, tekak, saluran pernafasan, paru-paru, saluran penghazaman, saluran darah, jantung, organ pembiakan, sehinggalah ke saluran kencing dan pundi kencing, iaitu apabila sebahagian dari racun-racun itu dikeluarkan dari badan.
Kesan Asap Rokok Kepada Si Perokok Dan Orang DisekelilingSi perokok bukan sahaja perlu bertanggungjawab pada diri sendiri tetapi turut bertanggung jawab pada orang disekeliling akibat daripada bahaya asap rokok. Asap rokok yang dihidu oleh perokok atau mereka yang berada di sekelilingnya, akan memasuki rongga mulut dan hidung melalui kerongkong ke paru-paru. Kandungan asap rokok akan menyebabkan kerosakan tisu di sepanjang perjalanan di ruang ini. Ia boleh menyebabkan pelbagai penyakit di mulut, kerongkong, paru-paru dan barah. Asap akan melalui saluran pernafasan ke dalam paru-paru dan merosakkan saluran bronkus, menyebabkan bronkitis, penyakit di bahagian paru paru. Ia juga akan merosakkan pundi udara dalam paru-paru (alveoli) dan menyebabkan penyakit emfisima.
Asap rokok yang dihidu juga akan melalui saluran penghadaman dan pencernaan, yang boleh menyebabkan pelbagai penyakit di bahagian esofagus, perut dan pankreas.
Racun dalam asap rokok yang larut air akan memasuki sistem saluran darah dan dibawa ke seluruh badan. Bahan nikotin, bukan saja memberi sifat ketagihan, malah menyebabkan saluran darah arteri menjadi sempit. Ia juga merosakkan dinding arteri dan akan memudaratkan organ berkaitan.
Kesan ini, dalam jangka panjang, akan menyebabkan simptom kebas pada kaki, jari, migrain, sakit kepala, pedih ulu hati, kekejangan otot kaki, serangan penyakit jantung dan sebagainya.
Racun rokok akhirnya disaring dalam buah pinggang dan dihapuskan dari badan melalui air kencing. Dalam proses ini pula, berlaku satu lagi keracunan hasil penguraian kimia asap rokok yang turut merosakkan buah pinggang. Racun dalam air kencing juga menyebabkan kerosakan pundi kencing.
Racun akibat merokok juga mempunyai kesan tindak balas terhadap ubat-ubatan. Secara umum diketahui merokok boleh menjejaskan fungsi beberapa kumpulan enzim di hati dan ada kalanya ia boleh memperhebatkan kesan sampingan sesuatu ubat itu.
Kesan Asap Rokok Terhadap Isteri Perokok Adalah :- Melahirkan bayi yang kurang berat badan- Melahirkan bayi yang tidak cukup bulan- Lebih terdedah kepada kanser- Mengurangkan kesuburan dan putus haid awalKesan Asap Rokok Terhadap Anak Perokok :- Lebih mudah lelah- Mendapat jangkitan paru-paru- Pertumbuhan paru-paru kanak-kanak terganggu- Mudah menjadi perokok apabila dewasa kelak.
Statistik Kematian Akibat Tabiat MerokokDi Malaysia, merokok menyumbang kepada lebih 10,000 kematian setahun; 30 peratus daripadanya disebabkan 10 jenis kanser, iaitu paru-paru, mulut, esofagus, tekak, pankreas, pundi kencing, buah pinggang, serviks, kolon dan perut, 50 peratus kematian berpunca daripada sakit jantung dan strok dengan pecahan 25 peratus masing-masing.
Menurut Dr Sallehudin, lebih 100,000 perokok dimasukkan ke hospital kerajaan di seluruh negara akibat sakit jantung, kanser dan penyakit sekatan pulmonari kronik (COPD) dan lebih penting, negara mengalami kerugian kira-kira RM20 bilion setahun bagi menanggung kos rawatan dan kehilangan produktiviti.
Faedah Berhenti Merokok- Hidup lebih lama- Dapat menghindari racun- Dapat melindungi diri, keluarga dan orang lain daripada bahaya merokok- Menjadi teladan yang baik kepada anak-anak- Dapat meningkatkan kecergasan serta memiliki tubuh yang sihat- Meningkatkan deria rasa dan bau- Gigi lebih putih dan nafas lebih segar- Dapat mengelakkan budaya membazir dengan menggunakan wang untuk membeli rokok kepada tujuan yang lebih baik dan bermanfaat.
Gunakan Kaedah Yang Betul Untuk Berhenti Merokok- Tetapkan tarikh untuk berhenti merokok- Yakinkan diri- Buat nota peringatan- Katakan pada diri anda, “Aku bukan perokok”- Tumpukan pada hari ini- Sentiasa berfikiran positif- Dapatkan sokongan- Lawan keinginan untuk merokok- Gunakan Terapi atau rawatan yang sesuai- Amalkan Petua 10 M untuk berhenti merokok
Sumber- Pusat Racun Negara, USM Official Website- Kementerian Kesihatan Malaysia Official Website- Institut Kefahaman Islam Malaysia Official Website – IKIM Dalam Media – Berita Harian- Sabahan.net- Persendirian
Source: http://bahayarokok.blogspot.com/

Akhirnya MUI Fatwakan Merokok Antara Makruh dan Haram


Majelis Ulama Indonesia (MUI) memfatwa merokok hukumnya antara makruh dan haram. Fatwa yang agak setengah-setengah. Keputusan ini diambil dalam sidang pleno Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia III yang dipimpin Ketua MUI Pusat, Ma'ruf Amin di aula Perguruan Diniyyah Puteri, Kota Padang Panjang, Sumbar, Minggu (25/1).
Keputusan ini sendiri sedikit berbeda dengan keputusan sidang Komisi B-1 yang membahas tentang hukum merokok, yang hendak membawa persoalan ini ke Komisi Fatwa MUI Pusat.
Namun dalam sidang pleno yang dilaksanakan sejak pukul 16.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB tadi, mengemuka pandangan kedudukan ijtima yang lebih tinggi dari Komisi Fatwa MUI Pusat, hingga hukum merokok harus tetap diputuskan.
Dalam persidangan pleno yang berlangsung alot tersebut, merokok diharamkan bagi anak-anak, wanita hamil, ulama MUI dan di tempat-tempat umum. Selain dari itu, hukum merokok adalah makruh.
Pimpinan sidang Komisi B-1 yang membahas tentang rokok sekaligus wakil ketua Komisi B-1, Amin Suma mengatakan umat tidak perlu bingung dengan fatwa MUI tersebut.
Menurutnya hukum merokok itu sendiri telah jelas, antara makruh dan mubah, artinya, serendah rendahnya makruh dan setinggi-tingginya mubah.
"Palu sudah diketok. Putusan MUI tidak haram total untuk semua umat . Namun umat akan cerdas memahami fatwa MUI tersebut. Pemerintah khususnya pemerintah daerah dapat mengeluarkan aturan terkait fatwa MUI tersebut," ujar Amin.
Meskipun begitu, Amin menyebutkan hukum merokok dapat kembali lagi dibahas dalam Ijtima Komisi Fatwa MUI yang bakal digelar dua tahun lagi. Tergantung pertanyaan dari peminta fatwa kepada MUI.
"Tidak ada fatwa yang abadi. Untuk sementara ini hukum merokok antara makruh dan haram, namun fatwa bisa berubah. Toh UUD saja bisa diamandemen," jelasnya.
Di lain pihak, Wakil Ketua Dewan Fatwa Matla'ul Anwar Pusat, Tenku Zulkarnain menyayangkan putusan Ijtima MUI tersebut. Meskipun tidak mengaku kecewa, namun ulama yang mendukung fatwa haram merokok tersebut menyebut tindakan MUI yang tidak berani memfatwa haram sebagai sesuatu yang menyedihkan.
"Kalangan ulama dunia dalam Konfrensi Umat Islam Se-dunia yang dilakukan di Brunai memutuskan merokok itu haram. Malaysia sudah sejak lama memutuskan haram. Bahkan Singapura yang hanya 11 persen penduduknya Islam juga telah memfatwa merokok itu haram," katanya.
Ke depan, Tenku menyarankan pemerintah untuk mencarikan jalan keluar bagi orang-orang yang saat ini masih menggantungkan hidupnya dari rokok.
"10 tahun lagi, pemerintah akan menghadapi kenyataan seluruh dunia membenci rokok. Dan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi," ungkap Tenku.
Sementara itu, dari paparan juru bicara Komisi B-1, Hasanuddin terungkap masukan dari 36 ulama yang mengharuskan merokok itu haram dan 6 ulama memutuskan makruh. Serta masukan dari tim perumus kepada sidang pleno agar mengharamkan rokok.

Kamis, 22 Januari 2009

MINUM ARAK PUNCAK SEGALA KEJAHATAN




Dosa manakah, minum minuman yang memabukkan, berzina atau membunuh. Itulah teka-teki sebagai inti khutbah Khalifah Ustman bin Affan r.a. seperti yang diriwayatkan oleh Az-Zuhriy, dalam khutbah Ustman itu mengingatkan umat agar berhati-hati terhadap minuman khamr atau arak. Sebab minuman yang memabukkan itu sebagai pangkal perbuatan keji dan sumber segala dosa.Dulu hidup seorang ahli ibadah yang selalu tekun beribadah ke masjid, lanjut khutbah Khalifah Ustman.


Suatu hari lelaki yang soleh itu berkenalan dengan seorang wanita cantik.Kerana sudah terjatuh hati, lelaki itu menurut saja ketika disuruh memilih antara tiga permintaannya, tentang kemaksiatan. Pertama minum khamr, kedua berzina dan ketiga membunuh bayi. Mengira minum arak dosanya lebih kecil daripada dua pilihan lain yang diajukan wanita pujaan itu, lelaki soleh itu lalu memilih minum khamr.Tetapi apa yang terjadi, dengan minum arak yang memabukkan itu malah dia melanggar dua kejahatan yang lain. Dalam keadaan mabuk dan lupa diri, lelaki itu menzinai pelacur itu dan membunuh bayi di sisinya.


"Kerana itulah hindarilah khamr, kerana minuman itu sebagai biang keladi segala kejahatan dan perbuatan dosa. Ingatlah, iman dengan arak tidak mungkin bersatu dalam tubuh manusia. Salah satu di antaranya harus keluar. Orang yang mabuk mulutnya akan mengeluarkan kata-kata kufur, dan jika menjadi kebiasaan sampai akhir ayatnya, ia akan kekal di neraka." Naudzubillah.

Terkadang orang masih suka mencari pembenaran seperti perkataan "minuman keras kalau cuma dikit hanya untuk anget-anget thok asal tidak mabuk khan gak papa" Padahal sudah jelas nash nya bahwa khamr/minuman keras sedikit maupun banyak hukumnya adalah haram tanpa embel-embel lainnya. Wallahua'lam.

QUNUT DALAM SHOLAT

Membaca Doa Qunut
http://www.eramuslim.com/
Membaca qunut ini disunnahkan didalam sholat, namun para ulama berbeda pendapat tentang sholat apa saja yang didalamnya dibacakan qunut..
Para ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa qunut dibaca didalam sholat witir. Mereka berpendapat qunut ini dilakukan sebelum ruku’. Qunut tidak dilakukan pada sholat-sholat selain witir kecuali apabila terjadi suatu bencana maka ia dilakukan di sholat-sholat yang dikeraskan bacaannya. Adapun bahwa nabi telah melakukan qunut selama satu bulan saat sholat subuh ini telah dimansukh (dihapus) menurut ijma, dengan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau saw pernah melakukan qunut didalam sholat subuh selama satu bulan kemudian dia saw meninggalkannya.” (HR. al Bazaar, Thabrani dan Ibnu Abi syaibah).
Para ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa disunnahkan qunut dibaca dengan suara pelan didalam sholat shubuh saja dan tidak disaat sholat witir dan selainnya karena hal itu makruh. Qunut itu afdhol dilakukan sebelum ruku’ walaupun jika dilakukan setelah ruku’ juga boleh.
Para ulama madzhab Syafi’i berpendapat bahwa disunnahkan qunut itu dilakukan saat i’tidal (bangun dari ruku’) di raka’at kedua sholat subuh, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw melakukan qunut sholat subuh hingga beliau meninggal dunia.” (HR. Ahmad, Abdur Razaq dan Daru Quthni). Dan Umar ra juga melakukan qunut di sholat subuh dan dihadiri oleh para sahabat yang lainnya.
Para ulama madzhab Hambali berpendapat seperti para ulama madzhab Hanafi bahwa qunut disunnahkan didalam sholat witir yang satu rakaat.sepanjang tahun, ia dilakukan setelah ruku’. Dan sebagaimana pendapat Syafi’i bahwa qunut juga dilakukan pada sholat witir di bagian kedua akhir dari bulan Ramadhan, namun jika ada yang melakukan qunut sebelum ruku’ pun tidak masalah, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw melakukan qunut setelah ruku’.” (HR. Muslim) serta yang diriwayatkan dari Humaid berkata, “Bahwa Anas pernah ditanya tentang qunut didalam sholat shubuh? Dia menjawa,’Kami dahulu melakukan qunut sebelum ruku’ juga sesudahnya.” (HR. Ibnu Majah) – (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz 2 hal 1001 -1008)
Jadi menurut pendapat Imam Malik dan Syafi’i bahwa membaca qunut bisa dilakukan didalam sholat shubuh, meskipun pandapat ini tidak sejalan dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad.
Di sinilah kaum muslimin diminta lebih arif dalam melihat perbedaan dikalangan para ulama tersebut sebagai suatu khazanah ilmiyah yang dimiliki umat ini dengan saling menghargai dan tidak menyerang orang-orang yang berbeda dengannya dalam hal yang furu’iyah seperti diatas.
Qunut saat ada musibah atau bencana
Dalam hal ini, para ulama madzhab Hanafi, Syafi’i dan juga Hambali berpendapat bahwa qunut saat ada bencana ini disyariatkan tapi tidak secara mutlak. Menurut para ulama madzhab Hanafi ia disyariatkan hanya di sholat-sholat yang bacaannya dikeraskan saja. Sedangkan menurut para ulama madzhab lainnya disetiap sholat yang wajib namun para ulama Hambali mengecualikan sholat jum’at karena hal itu sudah cukup dengan khutbahnya. Dianjurkan juga doa qunut tersebut dibaca dengan suara keras. …
Qunut Nazilah ini mengikuti contoh dari Rasulullah saw yang telah melakukan qunut selama satu bulan untuk mendoakan agar pembunuh-pembunuh para sahabat pemnghafal Qur’an di sumur Ma’unah itu dibalas oleh Allah swt.” (HR.Bukhori Muslim) – (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz 2 hal 1008)Wallahu A’lam. (Sumber ust. Sigit Pranowo Lc/eramuslim.com)

An-Nas


Bismillaahirrohmaanirrohiim
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
114. 1. Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

مَلِكِ النَّاسِ
114.2. Raja manusia.

إِلَهِ النَّاسِ
114.3. Sembahan manusia.

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
114.4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
114.5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ
114.6. dari (golongan) jin dan manusia.

Al-"Ashr


Bismillaahirrohmaanirrohiim
وَالْعَصْرِ
103.1. Demi masa.

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
103.2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
103.3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Al-Falaq


Bismillaahirrohmaanirrohiim
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
113.1. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,

مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
113.2. dari kejahatan makhluk-Nya,

وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
113.3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
113.4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul [1610],[1610] Biasanya tukang-tukan sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan meng- hembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut.

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
113.5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki".

Al Hasyr (59) : 22-24

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
59.22. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
59.23. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاء الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
59.24. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

Instrospeksi

Semakin banyak kita tahu, kita semakin tahu bahwa banyak yang kita tidak tahu